Friday, June 19, 2009

Gelar Lomba Pidato Bahasa Mandarin di lamongan

Beberapa peserta cukup percaya diri (pede) dengan tampil membacakan pidato bahasa mandarin tanpa menggunakan teks. Namun ada juga sebagain kecil yang melakukan pidato dengan membawa teks, alias membaca. Peserta lomba dinilai kemampuan bahasa mandarinnya oleh empat orang dewan juri. Yakni Ahmad Tantowi (SMAN 2 Lamongan), Narfi Mayasari (SAMN Paciran), Fahril (SMKN I Lamongan) dan seorang guru SMAN 2 Lamongan dari Republik Rakyat China (RRC) Wang Kai Rui. Dari tiga poin penilaian yakni pelafalan, penampilan dan teks, 60 persen diantaranya akan dinilai dari kejelasan pelafalan dan ketepatan nada.


Dalam sambutannya, Bupati Lamongan Masfuk tandaskan bahwa tidak akan keliru bagi yang mau belajar Bahasa Mandarin. Menurutnya, meski Lamongan dikenal sebagai Kota Santri, namun tetap harus bisa membaca persaingan global. Diuraikannya, manfaat belajar Bahasa Mandarin baru akan dirasakan siswa ketika dia mulai berkompetisi dalam dunia kerja. Karena saat ini perekonomian RRC demikian pesat berkembang, sehingga kebutuhan pasar kerja saat ini juga mensyaratkan kemampuan Bahasa Mandarin.

”Kemampuan Bahasa Mandarin ini akan menjadi investasi keunggulan kompetitif dan pengetahuan siswa Lamongan. Para siswa akan merasakan manfaatnya ketika nanti memasuki dunia kerja. Karena ketika dunia dilanda krisis global dan mengakibatkan negara seperti Singapura kolaps, negara-negara seperti China, India dan Indonesia masih sanggup bertahan, ” jelas dia di halaman Kantor Dinas Pendidikan, Selasa (16/6).

Dilanjutkannya, kalau ada yang kritik kegunaan diajarkannya Bahasa Mandarin di sekolah-sekolah Lamongan, orang itu pasti primitif. Karena kedepan,sambung dia, kebutuhan akan kemampuan Bahasa Mandarin tidak bisa direm. ”Seperti halnya sekarang kita tidak bisa mengerem internet dan televisi. Kita Cuma bisa mengarahkan. Jangan lupa, empat dari sembilan Wali Songo adalah keturunan Tionghoa, ” ujarnya dalam kegiatan yang juga dihadiri Wakil Bupati Tsalits Fahami dan Sekkab Fadeli itu.

Ditempat yang sama sebelumnya juga dilakukan peletakan batu pertama Masjid An Nur Dinas Pendidikan setempat oleh Masfuk. Diterangkan Kepala Dinas Pendidikan Mustofa Nur, masjid tersebut dibangun secara swakelola dengan anggaran sebesar Rp 852 juta.

Labels:

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home