Thursday, June 25, 2009

PERANAN KELUARGA DALAM MENCIPTAKAN KESEHATAN MENTAL ANAK

Pelajari Kesehatan Fisik dan Mental
Olahraga berjalan kaki atau berlari adalah olahraga yang sehat dan murah, bisa dilakukan oleh siapa saja. Begitu juga dengan bersepeda meskipun sedikit mengeluarkan biaya. Apalagi kalau dilakukan bersama-sama sekeluarga atau dengan teman-teman pasti sangat menyenangkan. Selain fisik sehat, hubungan keluarga atau teman-teman yang olahraga bersama kita menjadi lebih dekat, lebih akrab. Hal ini membuat hati menjadi bahagia dan menimbulkan semangat baru untuk melakukan aktivitas berikutnya. Kalau hal ini dilakukan dengan rutin pasti dampaknya sangat baik untuk kesehatan fisik dan mental kita.


Hidup sehat fisik dan mental merupakan dambaan setiap manusia. Kesehatan fisik dan mental selain harus dilatih dengan olahraga, juga harus di jaga dengan makan makanan yang bergizi.
Yang di maksud dengan kesehatan fisik, ialah keadaan baik, artinya bebas dari sakit seluruh badan dan bagian-bagiannya (Kamus Besar Bahasa Indonesia, Depdikbud-Balai Pustaka, Jakarta 1996).
Seseorang yang fisiknya sehat dan kuat lebih beruntung dibanding dengan orang yang sakit-sakitan, kurus dan lemah. Ia dapat melakukan aktivitas dalam lingkungan masyarakat dan lainnya. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan akan memberikan pengalaman-pengalaman baru baginya yang merupakan modal perkembangan selanjutnya.
Yang di maksud dengan kesehatan mental, ialah kemampuan seseorang menyesuaikan diri terhadap berbagai tuntutan perkembangan sesuai kemampuannya, baik tuntutan dalam diri sendiri maupun luar dirinya sendiri, seperti menyesuaikan diri dengan lingkungan rumah, sekolah, lingkungan kerja dan masyarakat serta teman sebaya.
Seseorang dapat mengikuti atau melakukan suatu aktivitas dengan baik bila ia sehat secara mental. Yang dimaksud sehat secara mental adalah adanya rasa aman, kasih sayang, kebahagiaan dan rasa diterima oleh orang lain. Sebaliknya seseorang akan mengalami hambatan mengikuti atau melakukan suatu aktivitas bila kesehatan mentalnya terganggu, seperti adanya: rasa cemas, sedih, marah, kesal, khawatir, rendah diri, kurang percaya diri dan lain-lain.
Tujuan kita mempelajari tentang kesehatan fisik dan mental, agar kita dapat menerima keadaan fisik yang telah dianugerahkan Tuhan Yang Maha Esa kepada kita dan mensyukurinya dengan jalan menjaganya agar senantiasa sehat wal'afiat.









Cara menjaga kesehatan fisik supaya tetap sehat dan kuat, antara lain yaitu:
• Memilih jenis makanan sehat (empat sehat lima sempurna), yaitu: tidak makan sembarangan (teratur), makan yang mengandung kalori, karbohidrat, protein, mineral, vitamin, susu dan sejenisnya.
• Menjaga kebersihan tempat tidur. Tempat tidur merupakan tempat kita beristirahat dari aktivitas. Dianjurkan apabila hendak tidur agar membersihkan anggota tubuh seperti kaki, tangan, mulut, dan lain-lain. Tempat tidur yang tidak bersih dapat menimbulkan penyakit, badan pegal-pegal dan lain-lain. Kalau tidur dalam keadaan bersih anggota badan kita tentu akan terhindar dari penyakit. Bangun tidur tubuh menjadi segar. Artinya organ-organ tubuh kita siap bekerja dan melakukan aktivitas.
• Menjaga kebersihan badan. Menjaga kebersihan badan merupakan hal penting yamg harus di lakukan bila kita menginginkan tubuh tetap sehat. Hal penting yang terkait dengan kesehatan badan meliputi seluruh anggota tubuh maupun lingkungan di luar kita seperti lingkungan rumah, halaman, tempat belajar, kantor dan lain-lain. Agama apapun menuntut kita untuk selalu bersih, karena kebersihan sebagian dari iman.
• Pemeriksaan badan ke Puskesmas atau dokter untuk menjaga kesehatan fisik antara lain: pemeriksaan mata, gigi dan lain-lain. Gigi dan mata merupakan organ yang sangat fundamental untuk kesehatan badan secara keseluruhan. Selain itu gigi sebagai daya tarik pemikat senyum, harus di periksa dan di rawat sebaik-baiknya. Hal ini juga dapat menambah percaya diri.

















Cara memiliki dan menjaga kesehatan mental yang tangguh.
Keberhasilan seseorang dalam melakukan atau mencapai sesuatu sangat banyak dipengaruhi bagaimana ia mampu menjaga kesehatan fisik dan mental sebaik-baiknya (seimbang). Kesehatan fisik dan mental seseorang menjadi satu kesatuan penting dan tidak terpisahkan dalam setiap aspek kehidupan untuk dapat melakukan dan mencapai sesuatu secara optimal.
Untuk itu setiap orang agar memilki kemampuan menghadapi persoalan atau masalah hendaknya;
1. Menerima dan mengakui dirinya sebagaimana adanya.
2. Tekun beribadah dan berakhlak mulia.
3. Bersikap sportif.
4. Percaya diri.
5. Memiliki semangat atau motivasi.
6. Tidak takut menghadapi tantangan dan berusaha terus untuk mengatasinya (hal positif).
7. Terbuka.
8. Tenang, tidak emosi bila menghadapi masalah (pikirkan dengan kepala dingin).
9. Banyak bergaul dan bermasyarakat (bergaul yang positif).
10. Bangun komunikasi yang baik dengan orang tua, teman, guru, dosen, atasan, dan lain-lain.
11. Banyak latihan mengendalikan diri, seperti tidak pemarah, tidak cemas, berpikir positif, mudah memaafkan dan lain-lain.
12. Membiasakan diri untuk selalu peduli dengan lingkungan dan orang lain.
Demikianlah tips untuk bisa hidup sehat fisik dan mental. Sebaiknya kita mencobanya kemudian membiasakannya dalam kehidupan sehari-hari. Tubuh kita yang sehat harus diimbangi dengan mental yang kuat. Mental yang kuat itupun harus dilatih secara rutin.

























Kondisi Mental Ayah Tentukan Emosi Anak

Keberhasilan mendidik anak merupakan tanggung jawab kedua orang tua. Hanya saja kini semakin banyak ayah yang melupakan perannya lantaran kesibukan pekerjaan. Sebuah penelitian yang dilakukan baru-baru membuktikan, peran ayah sama penting dengan sang ibu pada masa perkembangan si kecil.

Kondisi mental ayah yang sehat untuk mendidik sang anak begitu vital. Para ahli menemukan fakta yang menyatakan, anak-anak yang dibesarkan ayah yang memiliki mental kurang baik maka akan berpengaruh terhadap pembentukan prilaku seperti rasa gelisah, depresi dan mungkin ketagihan terhadap obat-obatan terlarang.

Fakta lain yang disebutkan, efek negatif mental ayah yang buruk banyak berpengaruh terhadap perkembangan anak lelaki ketimbang peremnpuan. Hal itu disebabkan, anak-anak banyak menghabiskan waktu bersama ibu mereka sedangkan peran ayah "menekan dari bawah sadar,". Demikian diungkap dua peneliti asal Universitas Oxford Inggris, Dr Paul Ramchandani dan Dr Lamprini Psychogiou terkait hasil penelitian seperti yang diberitakan The Telegraph, awal pekan.

"Pada anak-anak, potensi resiko dari kondisi kesehatan mental ayah berbeda ketimbang ibu dan potensi resiko terhadap anak laki-laki lebih tinggi ketimbang anak perempuan," tukas Paul.

Hasil penelitian juga menyebutkan mengapa hal itu bisa terjadi. Disebutkan, kebanyakan waktu dimana pria menjadi seorang ayah berada pada rentang usia 18-35, tentu ini menjadi rentang usia dimana kesehatan mental berpotensi mengalami gangguan. Para ahli mencatat, sekitar 2% dari pria mengalami gangguan umum kesehatan mental dan akan berpengaruh terhadap keturunan mereka.

Para ahli juga memaparkan, anak-anak yang orang tuanya mengalami gangguan mental di minggu-minggu awal kelahiran anak kedua maka berpotensi pula bermasalah pada sikap dan emosi anak nantinya. Dikhawatirkan pula, gangguan kesehatan mental ayah bersamaan dengan anak menjelang usia remaja maka akan berdampak pada pembentukan depresi atau bahkan bunuh diri.

Penelitian juga membuktikan, anak yang memiliki ayah seorang pecandu alkohol maka akan memungkinkan dampak sepeti gangguan mood, depresi dan terpengaruh untuk menjadi pecandu obat-obatan terlarang.

Tak hanya itu, anak remaja dimana orang tuanya mengalami "manic depression" atau yang dikenal dengan bioploar depresion yaitu diagnosa psikiatris yang melukiskan kategori kekacauan keadaan jiwa, dapat mengaktifkan potensi gangguan pada pertumbuhan mental anak 10 kali ketimbang teman mereka yang memiliki ayah normal. Selain itu, berpotensi 3 dan 4 kali terkena penyakit psikiatris.

Hasil penelitian kemudian menyimpulkan, kesehatan mental Ayah tidak hanya bermanfaat untuk dirinya sendiri tapi tetapi merupakan kesempatan membantu memperbaiki hidup anak-anak mereka.
http://republika.co.id/berita/48664/Kondisi_Mental_Ayah_Tentukan_Emosi_Anak
Kesehatan Mental & Family









Life is a series of evolutions and each one has its own stresses and challenges. Hidup merupakan rangkaian evolutions dan masing-masing memiliki tantangan dan tekanan. In this section, you will find insights and information designed to help people through some of the more stressful life changes. Dalam bagian ini, Anda akan menemukan wawasan dan informasi yang dirancang untuk membantu orang melalui beberapa perubahan hidup lebih stress.
Being a parent can be one of life's most joyous experiences. Menjadi orang tua dapat menjadi salah satu kehidupan yang paling bergembira pengalaman. At the same time, parenting can cause strain and tension, not to mention sleep deprivation! Pada saat yang sama, orang tua dapat menyebabkan kejang dan ketegangan, belum lagi pencabutan tidur! Here, you'll find ways to cope with the demands and rewards of being a parent. Di sini, Anda akan menemukan cara untuk mengatasinya dengan tuntutan dan imbalan menjadi orang tua.
Going through a separation or divorce is painful for everyone in the family. Melalui pemisahan atau perceraian yang menyakitkan bagi setiap orang dalam keluarga. Parents, though, have the additional responsibility of reassuring and safeguarding the emotional well-being of their children. Orangtua, meskipun, ada tambahan tanggung jawab yg menenangkan dan menjaga emosi kesejahteraan anak-anak mereka. We offer insights and suggestions for the whole family. Kami menawarkan wawasan dan saran bagi seluruh keluarga.
The transformation from child to caregiver for aging parents can be very difficult. Transformasi dari anak untuk orang tua dan penjaga untuk aging dapat menjadi sangat sulit. As people live longer, more children face dilemmas about how to best care for their elderly parents. Hidup sebagai orang lagi, lebih banyak anak-anak menghadapi dilemmas tentang cara terbaik untuk merawat orang tua orang tua mereka. Feelings of guilt, anger and frustration are common. Perasaan bersalah, kemarahan dan kekecewaan yang umum. Here, you'll find advice, information and resources on these issues. Di sini, Anda akan menemukan nasehat, informasi dan sumber daya pada masalah ini.



.















KESEHATAN MENTAL


Pengertian mengenai kesehatan beragam ungkapnya. Berikut ini adalah beberapa pengertian tersebut:
1. Kesehatan mental adalah terhindarnya orang dari gejala-gejala gangguan jiwa ( neurose )
2. Kesehatan mental adalah kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan diri sendiri dengan orang lain dan masyarakat serta lingkungan dimana dia hidup dan berinteraksi.
3. Kesehatan mental adalah pengetahuan dan perbuatan yang bertujuan untuk mengembangkan dan memanfaatkan segala potensi, bakat dan pembawaan yang ada semaksimal mungkin, sehingga membawa kepada kebahagiaan diri dan orang lain serta dari gangguan-gangguan dan penyakit jiwa.
4. Kesehatan mental adalah terwujudnya keharmonisan yang sungguh-sungguh antara fungsi-fungsi jiwa, serta mempunyai kesanggupan untuk menghadapi problem-problem biasa yang terjadi dan merasakan secara positif kebahagiaan dan kemampuan diri.
Ini adalah pengertian menurut : Dr. Zakiah Daradjat, Kesehatan Mental, 1994, CV HAJI SAMAAGUNG ; Jakarta.
Jadi dalam hal ini Kesehatan mental dapat dirangkum. Kesehatan mental adalah keserasian atau kesesuaian antara seluruh aspek psikologis dan dimiliki oleh seorang untuk dikembangkan secara optimal agar individu mampu melakukan kehidupan-kehidupan sesuai dengan tuntutan-tuntutan atau nilai-nilai yang berlaku secara individual, kelompok maupun masyarakat luas sehingga yang sehat baik secara mental maupun secara sosial.
Pengertian mengenai kesehatan beragam ungkapnya Pengertian sehat atau kesehatan menurut dokter mungkin sedikit banyak akan berbeda dengan perawat, fisioterapi, apoteker atau tenaga peramedis lainnya. Meskipun mereka bersama-sama mengabdi pada bidang kesehatan. Adapun pengertian tentang kesehatan :
• Dalam indeks buku The International Dictionary Of Medicine and Biology (Freund.1991) mendefinisikan kesehatan sebagai suatu kondisi yang dalam keadaan baik dari suatu organisme atau bagiannya yang dirincikan oleh fungsi yang normal dan tidak adanya penyakit.
• WHO mendefinisikan kesehatan sebagai keadaan (status) sehat utuh secara fisik, mental ( rohani ) dan social, bukan hanya suatu keadaan yang bebas dari penyakit, cacat dan kelemahan.(Smeet. 1994).
• Pembahasan mengenai konsep kesehatan lebih difokuskan pada model-model kesehatan yang muncul. Model-model kesehatan itu antara lain model barat dan model timur.
Menurut Eisenberg (Helman, 1990) yang dimaksud dengan model adalah cara merekontruksi realita, memberikan makna kepada fenomena-fenomena alam yang pada dasarnya bersifat chaos. Model kesehatan barat dapat dibedakan menjadi beberapa macam yaitu model biomedis atau sering disebut sebagai model medis ( Joesoet, 1990; Freund, 1991; Helman, 1990; Tamm, 1993), model spikiatris (Helman, 1990) dan model psikosomatis (Tamm, 1993) sedangkan model kesehatan timur umumnya disebut model kesehatan holistic (Joesoet, 1990) yang menekankan pada keseimbangan (Helman,1990).
Model biomedis (Freud, 1991) memiliki 5 asumsi.
1.Terdapat perbedaan yang nyata antara tubuh dan jiwa sehingga penyakit diyakini berada pada suatu bagian tubuh tertentu.
2.Bahwa penyakit dapat direduksi pada gangguan fungsi tubuh, entah secara biokimia atau neurofisiologi.
3.Keyakinan bahwa setiap penyakit disebabkan oleh suatu agen khusus yang secara potensial dapat didefinisikan.
4.Melihat tubuh sebagai suatu mesin.
5.Konsep bahwa obyek yang perlu diatur dan dikontrol.
Asumsi ini merupakan kelanjutan dari asumsi bahwa tubuh adalah suatu mesin yang perlu mendapatkan pemeliharaan.
Model psikosometik menyatakan penyakit berkembang melalui saling terkait secara berkesinambungan antara factor fisik dan mental yang saling memperkait satu sama lain melalui jaringan yang kompleks.
Holisme dalam arti yang sempit melihat organisme manusiawi sebagao suatu system kehidupan yang semua kompenennya saling terkait dan saling tergantung. Sementara menurut arti luas pandangan holistis menyadari bahwa system tersebut merupakan suatu bagian integral dari system-sistem yang luas dimana organisme individu berinterksi terus menerus dengan lingkungan fisik dan sosialnya yaitu tetap terpengaruh oleh lingkungan.
Seseorang dikatakan sehat tidak cukup dilihat hanya dari segi fisik, psikologis dan sosial saja, tapi juga harus dilihat dari segi spiritual dan agama.
Inilah yang kemudian disebut Dadang Hawari sebagai dimensi sehat itu, yaitu : Bio-psiko-sosial-spiritual. Jadi seseorang yang sehat mentalnya tidak hanya sebatas pengertian terhindarnya dia dari gangguan dan penyakit jiwa baik neurosis maupun psikosis, melainkan patut pula dilihat sejauh mana seseorang itu mampu menyesuaikan diri dengan dirinya sendiri dan lingkungannya, mampu mengharmoniskan fungsi-fungsi jiwanya, sanggup mengatasi problem hidup termasuk kegelisahan dan konflik batin yang ada, serta sanggup mengaktualisasikan potensi dirinya untuk mencapai kebahagiaan.
Istilah kesehatan mental sendiri memperoleh pengertian yang beragam seiring perkembangannya :
1. Sebagai kondisi atau keadaan sebagaimana gambaran diatas.
2. Sebagai ilmu pengetahuan cabang dari ilmu psikologi yang bertujuan mengembangkan potensi manusia seoptimal mungkin dan menghindarkannya dari gangguan dan penyakit kejiwaan.
Seseorang dapat berusaha memelihara kesehatan mentalnya dengan menegakkan prinsip-prinsipnya dalam kehidupan, yaitu :
1. Mempunyai self image atau gambaran dan sikap terhadap diri sendiri yang positif.
2. Memiliki interaksi diri atau keseimbangan fungsi-fungsi jiwa dalam menghadapi problema hidup termasuk stress..
3. Mampu mengaktualisasikan secara optimal guna berproses mencapai kematangan.
4. Mampu bersoiallisasi dan menerima kehadiran orang lain
5. Menemukan minat dan kepuasan atas pekerjaan yang dilakukan
6. Memiliki falsafah atau agama yang dapat memberikan makna dan tujuan bagi hidupnya.
7. Mawas diri atau memiliki control terhadap segala kegiatan yang muncul
8. Memiliki perasaan benar dan sikap yang bertanggung jawab atas perbuatan-perbuatannya.
Manusia sebagai mahkluk yang memiliki banyak keterbatasan kerap kali mengalami perasaan yang takut, cemas, sedih, bimbang dan sebagainya. Dalam psikologi gangguan atau penyakit jiwa akrab di isitilahkan dengan psikopatologi. Ada dua macam psikopatologi :
1. Neurosis
2. Psikosis.
Sementara dari H. Tarmidzi membagi psikopatologi menjadi 6 macam, selain 2 yang sudah disebutkan diatas dia mengemukakan yang lainnya : Psikomatik, kelainan kepribadian, deviasi seksual, dan retardasi mental.
Neurosis adalah gangguan jiwa yang penderitanya masih menyadari atas kondisi dirinya yang tengah terganggu. Sedangkan psikosis adalah penyakit jiwa yang parah , yang ditingkatkan ini penderita tidak lagi sadar akan dirinya.
Dengan demikian penyakit adalah suatu yang dimiliki organ, sedangkan penyakit illness adalah suatu yang dimiliki manusia yaitu respon subjektif pasien dan segala suatu yang meliputinya.
Menurut Cassell, Kleininan’s (Freund, 1991) mendefinisikan disease mengacu peda kondisi biofisik – masalah seperti yang dilihat dari perspektif praktisi biomedis. Sebaliknya illness mengacu pada bagaimana orang yang sakit dan anggota keluarganya atau jaringan social yang lebih luas merasakannya, dan bereaksi terhadap simtom-simtom dan ketidakmampuannya.
Kategori atau Penggolongan Kesehatan Mental
1.Gangguan Somatofarm
Gejalanya bersifat fisik, tetapi tidak terdapat dasar organic dan factor-faktor psikologis.
2.Gangguan Disosiatif
Perubahan sementara fungsi-fungsi kesadaran, ingatan, atau identitas yang disebabkan oleh masalah emosional.
3.Gangguan Psikoseksual
Termasuk masalah identitas seksual (impotent, ejakulasi, pramatang, frigiditas) dan tujuan seksual.
4.Kondisi yang tidak dicantumkan sebagai gangguan jiwa.
Mencakup banyak masalah yang dihadapi orang-orang yang membutuhkan pertolongan seperti perkawinan, kesulitan orang tua, perlakuan kejam pada anak.
5.Gangguan kepribadian
Pola prilaku maladaptik yang sudah menahun yang merupakan cara-cara yang tidak dewasa dan tidak tepat dalam mengatasi stres atau pemecahan masalah.
6.Gangguan yang terlihat sejak bayi, masa kanak-kanak atau remaja.
Meliputi keterbelakangan mental, hiperaktif, emosi pada kanak-kanak, gangguan dalam hal makan.
7.Gangguan jiwa organik
Terdapat gejala psikologis langsung terkait dengan luka pada otak atau keabnormalan lingkungan biokimianya sebagai akibat dari usia tua dan lain-lain.
8.Gangguan penggunaan zat-zat
Penggunaan alkohol berlebihan, obat bius, anfetamin, kokain, dan obat-obatan yang mengubah prilaku.
9.Gangguan Skisofrenik
Serangkaian gangguan yang dilandasi dengan hilangnya kontak dengan realitas, sehingga pikiran, persepsi, dan prilaku kacau dan aneh.
10.Gangguan Paranoid
Gangguan yang ditandai dengan kecurigaan dan sifat permusuhan yang berlebihan disertai perasaan yang dikejar-kejar.
11.Gangguan Afektif
Gangguan suasana hati (mood) yang normal, penderita mungkin mengalami depresi yang berat, gembira yang abnormal, atau berganti antara saat gembira dan depresi.
12.Gangguan Kecemasan
Gangguan dimana rasa cemas merupakan gejala utama atau rasa cemas dialami bila individu tidak menghindari situasi-situasi tertentu yang ditakuti.
CONTOH-CONTOH PERILAKU MENYIMPANG
1.Kleptomania (mencuri terpaksa)
Dalam hal ini orang terpaksa mencuri barang orang lain. Sebenarnya ia merasa gelisah dengan perlakuan mencuri itu, akan tetapi ia tidak dapat menghindarkan dirinya dari tindakan itu, walaupun barang-barang tersebut tidak dibutuhkannya.
Yang banyak menderita gejala ini adalah anak-anak karena orangtuanya terlalu keras, disiplin atau kurang memperhatikan.
Contohnya: seorang anak yang memiliki cukup uang mencoba mencuri disebuah toko, anehnya barang-barang yang dicuri tersebut tidak digunakan akan tetapi dibagi-bagikan kepada temannya dan tidak jarang barang-barang tersebut disimpan sebagai koleksi.
2.Fetishism
Pada gejala ini orang terpaksa mengumpulkan dan menyimpan barang-barang kepunyaan orang lain dari seks yang berlainan. Misalnya seorang laki-laki yang suka menyimpan saputangan, sepatu atau rambut wanita yang baginya mempunyai arti atau nilai seksuil dalam perasaannya.
3.Compusife (yang berhubungan dengan seksuil)
Gejala ini ada 2 macam yaitu:
 Ingin tahu tentang kelamin dari orang berlainan seks
 Ingin memamerkan kelamin sendiri
Dalam hal yang pertama seseorang akan berusaha untuk melihat atau memperhatikan bentuk tubuh dan kelamin orang lain dengan berbagai cara atau juga memegang-megangnya. Dalam hal ini yang kedua oaring merasa terdorong untuk memamerkan tubuh dan kelaminnya tanpa merasa malu.
Pada umumnya gejala tersebut diakibatkan oleh pengalaman yang tidak menyenangkan waktu kecil atau mungkin pula sebagai ungkapan dari keinginan yang tertekan yang pelaksanaannya dan merasa takut kalau keinginannya itu terasa kembali.


























Page 1 Page 1
1 1
Exploring the family role in mental healthcare Menjelajahi peran keluarga dalam kesehatan mental
On Tuesday, September 27, 2005, ACMH hosted the first symposium on family Selasa, 27 September 2005, ACMH host pertama simposium pada keluarga
involvement in Michigan. keterlibatan di Michigan. The purpose of the symposium was to engage family leaders Tujuan dari simposium ini adalah untuk melibatkan keluarga pemimpin
and mental health administrators in an initial exploration and working dialogue on family administrator dan kesehatan mental di awal eksplorasi dan dialog bekerja pada keluarga
driven mental health care. didorong perawatan kesehatan mental.
The Desired outcomes were: Hasil yang diinginkan adalah:
1. 1. To enrich our shared understanding of the family role in mental health care. Bersama kami untuk memperkaya pemahaman tentang peran keluarga dalam perawatan kesehatan mental. (What is (Apakah
it?) it?)
2. 2. To explore our shared value for family driven mental health care. Untuk mencari nilai kami bersama keluarga didorong untuk kesehatan mental. (What are the (Apakah
potential benefits/limitations?) potensi keuntungan / keterbatasan?)
3. 3. To envision together the barriers and possibilities of family driven mental health care Envision untuk bersama-sama dengan hambatan dan kemungkinan keluarga didorong kesehatan mental
in Michigan. di Michigan. (What are the potential barriers and opportunities for achieving it in (Apakah hambatan potensi dan peluang untuk mencapai dalam
Michigan's MH systems?) Michigan MH dari sistem?)
Over eighty family members and mental health professionals participated in the dialogue. Lebih dari delapan puluh anggota keluarga dan profesional kesehatan mental berpartisipasi dalam dialog.
Following is a summary of their discussion. Berikut adalah ringkasan dari diskusi mereka.
What are the potential benefits of family driven mental health care? Apakah manfaat potensial dari keluarga didorong kesehatan mental?
• Increase potential for family support • Meningkatkan potensi keluarga untuk mendukung
• Expanded family support • memperluas dukungan keluarga
• Increased potential for collaboration resulting in improved decision making • Meningkatkan potensi kerjasama dihasilkan dalam pengambilan keputusan ditingkatkan
• Increased potential for cost effectiveness • Peningkatan potensi untuk efektivitas biaya
• Increased family capacity for empowerment and success • Peningkatan kapasitas untuk pemberdayaan keluarga dan keberhasilan
• Increased potential for family voice and choice • Peningkatan potensi suara keluarga dan pilihan
• Increased benefits to all family members • Meningkatkan manfaat kepada semua anggota keluarga
• Strengthens the foundation for meaningful family-provider relationships • Memperkuat yayasan yang bermakna bagi keluarga-selular hubungan
• Increase potential for positive energy and effective decision making • Meningkatkan potensi energi positif dan efektif dalam pengambilan keputusan
What are the potential limitations of family driven mental health care? Apa potensi keterbatasan keluarga didorong kesehatan mental?
• Resistance to change • Resistance untuk mengubah
• Challenge of creating the culture and 'system' required to support the needed • Tantangan untuk menciptakan budaya dan 'sistem' yang diperlukan untuk mendukung kebutuhan
changes perubahan
• System structures that do not recognize or support family-driven practices • Sistem struktur yang tidak mengenal keluarga atau mendukung praktek-driven
• Limited vision of what is possible… • Keterbatasan visi tentang apa yang mungkin ...
• Need for guidance, support, and education to support the desired changes • Perlunya bimbingan, dukungan, dan pendidikan untuk mendukung perubahan yang diinginkan
What blocks us from being family driven? Blok apa yang kami dari keluarga didorong? What are the potential barriers? Apa saja potensi hambatan?
• Families' fear of professionals and uncertainty about their role in a family-driven • Keluarga 'takut profesional dan ketidakpastian mengenai peran mereka dalam keluarga-driven
system and often lack the necessary skills & support necessary for engagement sistem dan sering kekurangan & keterampilan yang diperlukan untuk mendukung diperlukan keterlibatan
• Professionals unclear about their role in a family-driven system and often lack • Professionals jelas tentang peran mereka dalam keluarga dan sistem-driven sering kekurangan
the pre-service training, experience, skills, & support necessary to engage in pra-layanan pelatihan, pengalaman, keterampilan, dan dukungan yang diperlukan untuk terlibat dalam
family-driven practices keluarga-driven praktek
• Current practice & structure …. not family-driven, emphasis on process not • Peristiwa praktek & struktur .... Tidak keluarga-driven, bukan menekankan pada proses
outcomes, fragmented social service system, fragmented advocacy network hasilnya, layanan bagi sistem sosial, advokasi bagi jaringan

Page 2 Halaman 2
2 2
(NAMI, ACMH, P & A, ARCs), lack of cultural competency, emphasis on (Nami, ACMH, P & J, ARCs), kurangnya budaya kompetensi, penekanan pada
consumer/beneficiary vs. family as the 'consumer' konsumen / penerima vs keluarga sebagai 'konsumen'
• DD and rules/regulations for adult services are often imposed on practices for • DD dan aturan / peraturan dewasa layanan sering dikenakan pada praktek untuk
children with severe emotional disturbances and their families parah anak-anak dengan gangguan emosi dan keluarga mereka
• Limited resources including staff , eg child psychiatry, children's specialty staff • Keterbatasan sumber daya termasuk staf, misalnya anak psikiatri, anak-anak staf khusus
• Developing understanding & respect – how do we build it? • Mengembangkan pemahaman & hormati - bagaimana kita membangun itu?
• limited legislative support and uninformed decision-makers • terbatas legislatif tak diberi dukungan dan keputusan
What propels us toward being family driven? Apa propels kami menuju keluarga yang digerakkan? What are the opportunities? Apakah peluang?
• Opportunity for a minimum standard of care and consistent practice across • Kesempatan untuk minimum standar perawatan dan konsisten di seluruh praktek
systems throughout Michigan, facilitated by supportive state policies Michigan seluruh sistem, yang difasilitasi oleh negara mendukung kebijakan
• Opportunities to learn from lead communities • Kesempatan untuk belajar dari pemimpin masyarakat
• Opportunities for families to learn from and network with other families • Peluang bagi keluarga untuk belajar dari jaringan dan dengan keluarga lain
• Improved outcomes for tax dollars invested in children's mental health services • Meningkatkan hasil pajak dolar diinvestasikan untuk anak-anak dalam pelayanan kesehatan mental
• Enhanced sense of family well being and ripple effect in the community • Peningkatan terhadap kesejahteraan keluarga dan efek suara dalam masyarakat
• Improve morale of professionals • Meningkatkan semangat profesional
• Timely with two new SAMHSA grants in our state! • tepat waktu dengan dua SAMHSA hibah baru di negara kita!
• Opportunities for Mental Health to proactively influence other systems • Kesempatan untuk Kesehatan Mental secara proaktif mempengaruhi sistem lain
• New staff hires in sync with family driven focus • New hires staf dalam sinkro keluarga didorong dengan fokus
• opportunities to build on family driven – youth guided transition to adulthood & • kesempatan untuk membangun keluarga didorong - pemuda petunjuk transisi ke dewasa &
person-centered orang-tengah
• Learn from different cultures • Belajar dari berbagai budaya
• Change the laws, regulations, and public policies to support Family Centered- • Mengubah undang-undang, peraturan, dan kebijakan publik untuk mendukung Keluarga-Centered
Practices Praktik
• New positive energy for social services systems – we can make a difference! • Baru energi positif bagi sistem pelayanan sosial - kita dapat membuat perbedaan!
• Opportunity for happier, healthier families and communities! • Kesempatan untuk bahagia, sehat keluarga dan masyarakat!



Labels:

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home