Wednesday, July 8, 2009

Analisis Kinerja Keuangan Bank Syariah Mandiri Periode 2002 – 2007 (dengan Pendekatan PBINo. 9/1/PBI/2007)

Abstract
Bank credibility could be seen from its financial performance. One ofthe large Islamicbank in Indonesia is Bank Syariah Mandiri. This research aims to know financial performance ofBank Syariah Mandiri for period 2002 to 2007. This research is a quantitative research, using descriptive analysis. The analysis exercise the Regulation of Bank Indonesia No. 9/1/PBI/2007 comprising the assessment system of the soundness of Islamic bank in Indonesia, including: capital, quality of productive asset, management, earning, liquidity and also sensitivity to market risk (CAMELS). However this research only analysis the financial aspect, without management criterion. The result ofthis research reveales that capital ratio is very strong, ratio ofquality of productive asset is good enough, earning ratio is very good, liquidity ratio is very strong and sensitivity to market risk ratio is very weak. Financial performance of Bank Syariah Mandiri as a whole pertaines the goodness.
Keyword: financial performance, quality ofproductive asset, earning, liquidity, dan sensitivity to market risk.

I. Pendahuluan
Perkembangan perbankan syariah di Indonesia cukup pesat, hal ini terlihat dari data yang dipublikasikan oleh Bank Indonesia. Pada Desember 2003 terdapat 2 Bank Umum Syariah dan 8 Unit Usaha Syariah dengan total asset lebih dari 7,8 triliun rupiah (belum termasuk BPRS).1 Sedangkan pada Desember 2007 di Indonesia terdapat 3 Bank Umum Syariah dan 26 Unit Usaha Syariah dengan total asset perbankan syariah di Indonesia sebesar lebih dari 36 triliun
* Penulis adalah alumni Program Studi Ekonomi Islam Fakultas Ilmu Agama Islam Univesitas Islam Indonesia Yogyakarta. Emai: yan_antok@yahoo.co.id
1 Bank Indonesia (2004). Statistik Perbankan Syariah Januari 2004. (Jakarta: Bank Indonesia). rupiah (belum termasuk BPRS).2 Hal ini merupakan pencapaian prestasi yang membanggakan bagi perbankan syariah di Indonesia, karena dalam waktu empat tahun perkembangan perbankan syariah sangat pesat (lebih dari 400%). Bank syariah dengan umur yang masih muda namun memiliki prestasi yang sangat bagus, bahkan Bank Indonesia menargetkan pangsa pasar perbankan syariah pada akhir tahun 2008 sebesar 5% dari pangsa pasar perbankan nasional,3 meskipun pangsa pasarnya masih sebesar 1,76% (per Desember 2007).4

Dengan semakin ketatnya persaingan antar bank syariah maupun dengan bank konvensional, membuat bank syariah dituntut untuk memiliki kinerja yang bagus agar dapat bersaing dalam memperebutkan pasar perbankan nasional di Indonesia. Selain itu BI juga semakin memperketat dalam pengaturan dan pengawasan perbankan nasional. Karena BI tidak ingin mengulangi peristiwa di awal krisis ekonomi pada tahun 1997 dimana banyak bank dilikuidasi karena kinerjanya tidak sehat, yang pada akhirnya merugikan masyarakat. Salah satu penilaian kinerja yang dapat dilakukan adalah dengan menilai kinerja keuangan untuk mengetahui tingkat kesehatan bank. Karena kinerja keuangan dapat menunjukkan kualitas bank melalui penghitungan rasio keuangannya. Untuk menghitung rasio keuangan dapat dilakukan dengan menganalisis laporan keuangan bank yang dipublikasikan secara berkala.

Ada beberapa metode yang dapat digunakan untuk mengukur kinerja bank syariah dan salah satunya adalah Peraturan Bank Indonesia No. 9/1/PBI/2007 yang dalam penilaiannya menggunakan pendekatan CAMELS (Capital, Asset, Management, Earning, Liquidity dan Sensitivity Market Risk). Ini merupakan alat ukur resmi yang telah ditetapkan oleh Bank Indonesia untuk menghitung kesehatan bank syariah di Indonesia. Namun dalam penelitian ini penulis hanya menganalisis kinerja dari aspek keuangan saja yang terdiri dari Capital, Asset, Earning, Liquidity dan Sensitivity Market Risk, sehingga aspek management tidak termasuk dalam aspek yang dianalisis karena bukan bagian dari aspek keuangan suatu perusahaan. Dan salah satu bank syariah besar di Indonesia adalah Bank Syariah Mandiri yang memiliki aset lebih dari 12 triliun rupiah5 dan memiliki 231 unit jaringan kantor pelayanan yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia.6 Karena merupakan salah satu bank syariah besar di Indonesia, sehingga kinerja

2 Bank Indonesia (2008). Statistik Perbankan Syariah Desember 2007. (Jakarta: Bank Indonesia).
3 Bank Indonesia (2006). Kebijakan Akselerasi Pengembangan Perbankan Syariah 2007-2008. (Jakarta: Bank Indonesia).
4 Bank Indonesia (2008). Statistik Perbankan Syariah Desember 2007. (Jakarta: Bank Indonesia).
5 Bank Syariah Mandiri (2008). Laporan keuangan publikasi triwulanan bulan desember 2007 bank syariah mandiri. (Jakarta: Bank Syariah Mandiri).
6 Bank Indonesia (2008). Statistik Perbankan Syariah Desember 2007. (Jakarta: Bank Indonesia).

BSM merupakan salah satu tolak ukur penilaian masyarakat akan kinerja bank syariah yang ada di Indonesia.

II. Kinerja Keuangan Bank Syari’ah
Kinerja (performance) dalam kamus istilah akuntansi adalah kuantifikasi dari keefektifan dalam pengoperasian bisnis selama periode tertentu.7 Kinerja bank secara umum merupakan gambaran prestasi yang dicapai oleh bank dalam operasionalnya. Kinerja keuangan bank merupakan gambaran kondisi keuangan bank pada suatu periode tertentu baik mencakup aspek penghimpunan dana maupun penyaluran dananya. Kinerja menunjukkan sesuatu yang berhubungan dengan kekuatan serta kelemahan suatu perusahaan. Kekuatan tersebut dipahami agar dapat dimanfaatkan dan kelemahan pun harus diketahui agar dapat dilakukan langkah-langkah perbaikan.8

Kinerja perusahaan dapat diukur dengan menganalisa dan mengevaluasi laporan keuangan. Informasi posisi keuangan dan kinerja keuangan di masa lalu seringkali digunakan sebagai dasar untuk memprediksi posisi keuangan dan kinerja di masa depan dan hal-hal lain yang langsung menarik perhatian pemakai seperti pembayaran dividen, upah, pergerakan harga sekuritas dan kemampuan perusahaan untuk memenuhi komitmennya ketika jatuh tempo.

Kinerja merupakan hal penting yang harus dicapai oleh setiap perusahaan di manapun, karena kinerja merupakan cerminan dari kemampuan perusahaan dalam mengelola dan mengalokasikan sumber dayanya.9 Selain itu tujuan pokok penilaian kinerja adalah untuk memotivasi karyawan dalam mencapai sasaran organisasi dan dalam mematuhi standar perilaku yang telah ditetapkan sebelumnya, agar membuahkan tindakan dan hasil yang diharapkan.10 Standar perilaku dapat berupa kebijakan manajemen atau rencana formal yang dituangkan dalam anggaran.

Rasio merupakan alat ukur yang digunakan perusahaan untuk menganalisis laporan keuangan. Rasio menggambarkan suatu hubungan atau pertimbangan antara suatu jumlah tertentu dengan jumlah yang lain. Dengan menggunakan alat analisa berupa rasio keuangan dapat menjelaskan dan memberikan gambaran kepada penganalisa tentang baik atau buruknya keadaan atau posisi keuangan suatu perusahaan dari suatu periode ke periode berikutnya.

7 Siegel Joel G. dan Joek Shim (1994). Kamus Istilah Akuntansi. (Jakarta: PT Elex Media Komputindo).
8 Maharani Ika Lestari dan Toto Sugiharto (2007). Kinerja Bank Devisa Dan Bank Non Devisa Dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya, Proceeding PESAT Auditorium Kampus Gunadarma 21-22 Agustus 2007. (Jakarta: Universitas Gunadarma).
9 Anita Febryani dan Rahadian Zulfadin (2003). Analisis Kinerja Bank Devisa dan Bank Non Devisa di Indonesia. Jurnal Kajian Ekonomi dan Keuangan Vol. 7 No. 4, 2003.
10 Ibid.

Analisis rasio keuangan adalah proses penentuan operasi yang penting dan karakteristik keuangan dari sebuah perusahaan dari data akuntansi dan laporan keuangan. Tujuan dari analisis ini adalah untuk menentukan efisiensi kinerja dari manajer perusahaan yang diwujudkan dalam catatan keuangan dan laporan keuangan. Dalam menggunakan analisis rasio keuangan pada dasarnya dapat melakukannya dengan dua macam perbandingan, yaitu:

- Membandingkan rasio sekarang (present ratio) dengan rasio-rasio dari waktu yang telah lalu (histories ratio) atau dengan rasio-rasio yang diperkirakan untuk waktu yang akan datang dari perusahaan yang sama.
- Membandingkan rasio-rasio dari suatu perusahaan dengan rasio-rasio sejenis dari perusahaan yang lain yang sejenis.
Perhitungan kinerja keuangan bank syariah menurut Peraturan Bank Indonesia No. 9/1/PBI/2007 Tentang Sistem Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum Berdasarkan Prinsip Syariah, adalah sebagai berikut:

A. Rasio permodalan (capital)
Rasio permodalan ini berfungsi untuk mengukur kemampuan bank dalam menyerap kerugian-kerugian yang tidak dapat dihindari lagi serta dapat pula digunakan untuk mengukur besar-kecilnya kekayaan bank tersebut atau kekayaan yang dimiliki oleh para pemegang sahamnya. Untuk menghitung rasio permodalan digunakan Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM).
B. Rasio kualitas aktiva produktif (KAP)
Rasio ini digunakan untuk mengetahui kualitas aktiva produktif, yaitu penanaman dana bank dalam rupiah atau valuta asing dalam bentuk kredit, surat berharga, penempatan pada bank lain dan penyertaan. Penilaian tersebut dilakukan untuk melihat apakah aktiva produktif digunakan untuk menghasikan laba secara maksimal. Selain itu penilaian kualitas aset dimaksudkan untuk menilai kondisi aset bank, termasuk antisipasi atas risiko gagal bayar dari pembiayaan (credit risk) yang akan muncul.
C. Rasio rentabilitas (earning)
Rasio rentabilitas merupakan alat untuk menganalisis atau mengukur tingkat efisiensi usaha dan kemampuan bank dalam menghasilkan laba. Rasio rentabilitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah Net Operational Margin (NOM).
D. Rasio likuiditas (liquidity)
Rasio likuiditas digunakan untuk menganalisis kemampuan bank dalam memenuhi kewajiban-kewajibannya. Suatu bank dinyatakan likuid apabila bank tersebut dapat memenuhi kewajiban hutangnya, dapat membayar kembali semua simpanan nasabah, serta dapat memenuhi permintaan kredit yang diajukan tanpa terjadi penangguhan. Dalam penelitian ini, rasio likuiditas yang digunakan adalah Short Term Mismatch (STM).
E. Sensitivias terhadap resiko pasar (sensitivity to market risk)
Penilaian sensitivitas atas risiko pasar dimaksudkan untuk menilai kemampuan keuangan bank dalam mengantisipasi perubahan risiko pasar yang disebabkan oleh pergerakan nilai tukar. Penilaian sensitivitas atas risiko pasar dilakukan dengan menilai besarnya kelebihan modal yang digunakan untuk menutup risiko bank dibandingkan dengan besarnya risiko kerugian yang timbul dari pengaruh perubahan risiko pasar.

III. Penelitian Terkait
Sebelumnya telah ada beberapa penelitian yang menggunakan teori kinerja keuangan sebagai alat analisisnya. Teori kinerja keuangan memiliki banyak variasi indeks untuk mengukur kinerja bank, salah satunya adalah rasio keuangan.
Berikut ini beberapa penelitian tentang kinerja bank yang telah dilakukan oleh beberapa orang peneliti, antara lain;
Luciana Spica Almilia dan Winny Herdiningtyas melakukan penelitian tentang kondisi bermasalah pada perbankan swasta di Indonesia periode 2000-2002. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memberikan bukti empiris tentang factor-faktor yang mempengaruhi kondisi kebangkrutan dan kesulitan keuangan perbankan. Factor-faktor yang diuji dalam penelitian ini adalah rasio CAMEL sesuai dengan ketentuan Bank Indonesia, yaitu CAR (Capital Adequancy Ratio), ATTM (Aktiva Tetap Terhadap Modal), APB (Aktiva Produktif Bermasalah), NPL (Non Performing Loan), PPAP (Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif) terhadap Aktiva Produktif, Pemenuhan PPAP (Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif), ROA (Return on Assets), ROE (Return on Equity), NIM (Net Interest Margin), BOPO (Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional) serta LDR (Loan to Deposit Ratio). Sampel penelitian ini terdiri dari 16 bank sehat, 2 bank yang mengalami kebangkrutan dan 6 bank yang mengalami kesulitan keuangan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan rasio yang memiliki perbedaan yang signifikan antara bank bermasalah dengan bank tidak bermasalah adalah CAR, APB, NPL, PPAPAP, ROA, NIM serta BOPO.11
Lisa Narulia dan Suryadi melakukan penelitian tentang kinerja Bank Syariah Mandiri antara sebelum dikeluarkannya fatwa MUI tentang haramnya bunga bank dengan sesudah dikeluarkannya fatwa tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk membandingkan kinerja Bank Syariah Mandiri antara sebelum dikeluarkannya fatwa haramnya bunga bank oleh MUI dengan setelah dikeluarkannya fatwa tersebut. Untuk menilai kinerja Bank Syariah Mandiri antara lain menggunakan rasio: Quick Ratio (QR), Financing to Deposit Ratio (FDR), Primary Ratio (PR), Capital Adequacy Ratio (CAR), Rasio Pengembalian Aset dan Rasio Pengembalian Ekuitas. Hasil dari penelitian ini menunjukkan aspek likuiditas dan rentabilitas setelah dikeluarkannya fatwa MUI memang lebih baik, namun aspek solvabilitas mengalami kemunduran. Respon masyarakat setelah adanya fatwa haramnya bunga bank terhadap Bank Syariah Mandiri menunjukkan hasil yang positif, dibuktikan dengan meningkatnya total pembiayaan sebesar 237% dan total simpanan juga meningkat sebesar 228%.12
Agunan P. Samosir melakukan penelitian tentang kinerja Bank Mandiri setelah merger (tahun 1998-2001). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi Bank Mandiri sebelum dan sesudah merger melalui kinerja keuangannya serta menganalisis efisiensi Bank Mandiri dibandingkan dengan bank BUMN lainnya. Indikator yang digunakan untuk menilai kinerja keuangan antara lain: Return on Assets (ROA), Return on Equity (ROE), Debt to Equity Ratio (DER), dan Debt to Total Assets Ratio (DTAR). Hasil penelitian ini menunjukkan kinerja Bank Mandiri setelah merger tidak berdampak positif atau dapat dikatakan tidak sehat jika dilihat dari rasio keuangan yang telah dikemukakan sebelumnya. Disamping itu, 70% pendapatan Bank Mandiri berasal dari pendapatan bunga obligasi pemerintah, justru pendapatan bunga dari pemberian kredit hanya sebesar 18% untuk tahun 2001. Dengan demikian, kinerja bank selama tiga tahun ini tidak lebih baik dibandingkan sebelum merger. Sementara itu, Bank Mandiri hanya diposisi keempat apabila dilihat efisiensi relatif diantara bank-bank pemerintah.13
Muliaman D Hadad, Agus Sugiarto, Wini Purwanti, M. Jony Hermanto dan Bambang Arianto melakukan penelitian tentang kaitan antara struktur kepemilikan bank di Indonesia dengan kinerja keuangan bank. Tujuan dari penelitian ini adalah mencari hubungan antara struktur kepemilikan dengan

11 Luciana Spica Almilia dan Winny Herdiningtyas (2005). Analisis Rasio CAMEL terhadap Prediksi Kondisi Bermasalah pada Lembaga Perbankan Periode 2000-2002, Juranal Akuntansi dan Keuangan Vol. 7 No. 2, Nopember 2005.
12 Lisa Narulia dan Suryadi (2006). Analisis Kinerja Bank Syariah Mandiri, Majalah Ekonomi dan Komputer No.2 Tahun XIV-2006.
13 Agunan P. Samosir (2003). Analisis Kinerja Bank Mandiri setelah Merger dan sebagai Bank Rekapitalisasi, Jurnal Kajian Ekonomi dan Keuangan Vol. 7 No. 1, Maret 2003.

kinerja bank. Adapun data bank yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah data perbankan secara cross section pada periode tahun 2002 serta kinerja bank per Desember 2002. Penelitian ini mencakup seluruh kelompok kepemilikan bank yang berbeda-beda yang terdiri dari 4 Bank BUMN, 76 Bank BUSN, 26 Bank BPD, 15 Bank Campuran, dan 10 Bank Asing. Indicator yang digunakan untuk menilai kinerja bank meliputi: Capital Adequacy Ratio (CAR), Return on Assets (ROA), Biaya Operasional dibandingkan dengan Pendapatan Operasional (BOPO), Non Performing Loans Gross (NPL Gross), dan unsur kepatuhan terhadap ketentuan yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia yaitu frekuensi pelanggaran GWM (Giro Wajib Minimum) dan pelanggaran lainnya yaitu keterlambatan penyampaian laporan dan kesalahan pelaporan (LBU dan LBBU). Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa kinerja suatu bank tidak terkait dengan struktur kepemilikan.14
Dari telaah pustaka diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa penelitian tersebut memiliki kesamaan dengan penelitian yang penulis lakukan, yaitu bahwa sama-sama menggunakan rasio keuangan sebagai alat analisis data. Namun yang membedakan penelitian diatas dengan penelitian yang dilakukan oleh penulis adalah rasio keuangan yang digunakan untuk melakukan analisis data berbeda dengan penelitian yang telah ada sebelumnya. Pada penelitian ini penulis menggunakan rasio keuangan sebagai berikut: rasio Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM), rasio Kualitas Aktiva Produktif (KAP), rasio Net Operating Margin (NOM), rasio Short Term Mismatch (STM) dan rasio Sensitivitas Terhadap Resiko Pasar (MR).

IV. Metode Penelitian
Ruang Lingkup Penelitian ini meliputi menganalisis kinerja keuangan Bank Syariah Mandiri dan datayang digunakan dalam penelitian ini meliputi data laporan keuangan tahunan yang dipublikasikan Bank Syariah Mandiri dari tahun 2002 sampai dengan tahun 2007.
Penelitian ini menurut analisis datanya termasuk penelitian kuantitatif, yaitu penelitian yang menganalisis data yang berbentuk angka. Sedangkan menurut kegunaannya penelitian ini termasuk penelitian deskriptif, yaitu penelitian yang hendak membuat gambaran atau mencoba mancandra suatu peristiwa atau gejala secara sistematis, faktual dengan penyusunan yang akurat. Pada penelitian ini kegiatan yang dilakukan mancari data untuk dapat menggambarkan atau mencandra secara faktual suatu peristiwa atau suatu gejala secara apa adanya.15

14 Muliaman D Hadad, Agus Sugiarto, Wini Purwanti, M. Jony Hermanto dan Bambang Arianto (2003). Kajian Mengenai Struktur Kepemilikan Bank Di Indonesia. (Jakarta: Bank Indonesia).
15 Supardi (2005). Metodologi Penelitian Ekonomi dan Bisnis. (Yogyakarta: UII Press), hal. 28.
Berikut akan diperjelas mengenai perhitungan rasio keuangan:
A. Rasio permodaan (solvability)16

KPMM = M tier 1, M tier 2,M tier 3 – Penyetaraan



Dimana:
M tier1 : Modal inti
M tier2 : Modal pelengkap
M tier3 : Modal pelengkap tambahan
Penyertaan :Penanaman dana Bank dalam bentuk saham pada perusahaan yang bergerak di bidang keuangan syariah atau jenis transaksi tertentu berdasarkan prinsip syariah yang berakibat Bank memiliki atau akan memiliki saham pada perusahaan yang bergerak di bidang keuangan syariah.

ATMR : Aktiva Tertimbang Menurut Risiko
Kriteria penilaian peringkat:
Peringkat 1 = KPMM ≥ 12%
Peringkat 2 = 9% ≤ KPMM < 3 =" 8%" 4 =" 6%" 5 =" KPMM" kap =" 1" 1 =" KAP"> 0,99
Peringkat 2 = 0,96 < 3 =" 0,93" 4 =" 0,90" 5 =" KAP" nom =" (" 1 =" NOM"> 3%
Peringkat 2 = 2% < 3 =" 1,5%" 4 =" 1%" 5 =" NOM" stm =" Aktiva" 1 =" STM"> 25%
Peringkat 2 = 20% < STM ≤ 25% Peringkat 3 = 15% < STM ≤ 20% Peringkat 4 = 10% < STM ≤ 15% Peringkat 5 = STM ≤ 10% 19 Ibid. Kriteria penetapan peringkat faktor likuiditas: 1. Peringkat 1, mencerminkan kemampuan likuiditas bank untuk mengantisipasi kebutuhan likuiditas dan penerapan manajemen risiko likuiditas sangat kuat. 2. Peringkat 2, mencerminkan kemampuan likuiditas bank untuk mengantisipasi kebutuhan likuiditas dan penerapan manajemen risiko likuiditas kuat. 3. Peringkat 3, mencerminkan kemampuan likuiditas bank untuk mengantisipasi kebutuhan likuiditas dan penerapan manajemen risiko likuiditas memadai. 4. Peringkat 4, mencerminkan kemampuan likuiditas bank untuk mengantisipasi kebutuhan likuiditas dan penerapan manajemen risiko likuiditas lemah. 5. Peringkat 5, mencerminkan kemampuan likuiditas bank untuk mengantisipasi kebutuhan likuiditas dan penerapan manajemen risiko likuiditas sangat lemah. E. Rasio sensitivias terhadap resiko pasar (sensitivity to market risk)20 MR = Ekses modal Potensial loss nilai tukar Dimana: - MR: Market Risk - Ekses Modal: kelebihan atas modal minimum yang ditetapkan untuk mengcover risiko pasar akibat pergerakan nilai tukar. - Potential Loss Nilai Tukar: risiko kerugian yang timbul akibat pergerakan nilai tukar yang berlawanan dengan perkiraan bank (gap position dari exposure banking book valas dikali fluktuasi nilai tukar). Kriteria penilaian peringkat: Peringkat 1 = MR • 12% Peringkat 2 = 10% • MR < 12% Peringkat 3 = 8% • MR < 10% Peringkat 4 = 6% • MR < 8% Peringkat 5 = MR < 6% Kriteria penetapan peringkat faktor sensitivitas terhadap risiko pasar: 1. Peringkat 1, mencerminkan risiko sangat rendah, dan penerapan manajemen risiko pasar efektif dan konsisten. 2. Peringkat 2, mencerminkan risiko relatif rendah, dan penerapan manajemen risiko pasar efektif dan konsisten. 20 Ibid. 3. Peringkat 3, mencerminkan risiko moderat atau tinggi, dan penerapan manajemen risiko pasar efektif dan konsisten 4. Peringkat 4, mencerminkan risiko moderat atau tinggi, dan penerapan manajemen risiko pasar yang kurang efektif dan kurang konsisten. 5. Peringkat 5, mencerminkan risiko moderat atau tinggi, dan penerapan manajemen risiko pasar tidak efektif dan tidak konsisten. Proses penilaian peringkat kinerja keuangan dilaksanakan dengan pembobotan atas nilai peringkat faktor permodalan, kualitas aset, rentabilitas, likuiditas, dan sensitivitas terhadap risiko pasar. Tabel 3.1 Bobot penilaian kinerja keuangan Rasio Bobot Peringkat Permodalan 25% Peringkat Kualitas Aktiva Produktif 50% Peringkat Rentabilitas 10% Peringkat Likuiditas 10% Peringkat Sensitivitas Terhadap Resiko Pasar 5% Sumber: Lampiran Surat Edaran No. 9/24/DPbS Perihal Sistem Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum Berdasarkan Prinsip Syariah. Peringkat faktor keuangan ditetapkan dalam 5 (lima) peringkat sebagai berikut: 1. Peringkat 1, mencerminkan bahwa kondisi keuangan Bank atau UUS tergolong sangat baik dalam mendukung perkembangan usaha dan mengantisipasi perubahan kondisi perekonomian dan industri keuangan. Bank memiliki kemampuan keuangan yang kuat dalam mendukung rencana pengembangan usaha dan pengendalian risiko apabila terjadi perubahan yang signifikan pada industri perbankan. 2. Peringkat 2, mencerminkan bahwa kondisi keuangan Bank atau UUS tergolong baik dalam mendukung perkembangan usaha dan mengantisipasi perubahan kondisi perekonomian dan industri keuangan. Bank atau UUS memiliki kemampuan keuangan yang memadai dalam mendukung rencana pengembangan usaha dan pengendalian risiko apabila terjadi perubahan yang signifikan pada industri perbankan. 3. Peringkat 3, mencerminkan bahwa kondisi keuangan Bank atau UUS tergolong cukup baik dalam mendukung perkembangan usaha namun masih rentan/lemah dalam mengantisipasi risiko akibat perubahan kondisi perekonomian dan industri keuangan. Bank memiliki kemampuan keuangan untuk mendukung rencana pengembangan usaha namun dinilai belum memadai untuk pengendalian risiko apabila terjadi kesalahan dalam kebijakan dan perubahan yang signifikan pada industri perbankan. 4. Peringkat 4, mencerminkan bahwa kondisi keuangan Bank atau UUS tergolong kurang baik dan sensitif terhadap perubahan kondisi perekonomian dan industri keuangan. Bank mengalami kesulitan keuangan yang berpotensi membahayakan kelangsungan usaha. 5. Peringkat 5, mencerminkan bahwa kondisi keuangan Bank atau UUS yang buruk dan sangat sensitif terhadap pengaruh negatif kondisi perekonomian, serta industri keuangan. Bank mengalami kesulitan keuangan yang membahayakan kelangsungan usaha dan tidak dapat diselamatkan. IV. Analisis Data A. Rasio Permodalan Modal bank selain sebagai sumber penting dalam memenuhi kebutuhan dana bank juga akan mempengaruhi keputusan-keputusan manajemen. Perhitungan aspek permodalan bank dimaksudkan untuk mengetahui seberapa besar kemampuan bank tersebut untuk menanggung resiko kerugian yang mungkin timbul dari pembiayaan yang diberikan bank kepada pihak lain. Permodalan bank dapat diukur dengan rasio Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM) seperti yang ditunjukkan pada tabel 4.1 berikut ini: Tabel 4.1 Perhitungan Rasio Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM) Dalam jutaan rupiah Pos - Pos Tahun Rata - rata 2002 2003 2004 2005 2006 2007 M tier 1 M tier 2 M tier 3 Penyertaan ATMR 414.980 46.835 1.186.761 441.965 53.133 2.372.596 493.514 89.946 5.519.151 581.438 91.323 5.665.285 655.377 104.287 6.046.224 743.841 329.991 8.635.674 555.186 119.253 4.904.282 KPMM 38% 20% 10% 11% 12% 12% 14% Peringkat 1 1 2 2 1 1 1 * Data laporan keuangan M tier 3 dan Penyertaan kosong. Dari perhitungan yang ditunjukkan pada tabel 4.1 diatas dapat diketahui bahwa secara umum KPMM BSM menunjukkan hasil yang sangat baik, karena dari rata-ratanya sebesar 14% dari ketentuan minimal yang telah ditetapkan oleh Bank Indonesia sebesar 8%, sehingga memperoleh peringkat pertama. KPMM tertinggi terjadi pada periode 2002 yaitu sebesar 38% dan memperoleh peringkat pertama. Sedangkan KPMM terendah terjadi pada periode 2004 yaitu hanya sebesar 10% sehingga memperoleh peringkat kedua. Pada periode terakhir 2007 KPMM yang diperoleh BSM sebesar 12% dan memperoleh peringkat pertama. Hal ini mencerminkan bahwa tingkat modal secara signifikan berada lebih tinggi dari ketentuan KPMM yang berlaku dan diperkirakan tetap berada di tingkat ini untuk 12 (dua belas) bulan mendatang. Seperti ditunjukkan pada grafik 4.1 diatas bahwa perkembangan KPMM BSM selama periode 2002 sampai 2004 menunjukkan penurunan kinerja, penurunan ini terjadi karena adanya perluasan usaha serta semakin meningkatnya pembiayaan yang dilakukan oleh BSM. Sehingga menyebabkan modal yang dimiliki BSM mengalami penurunan secara prosentasenya, meskipun jika dilihat dari nominalnya mengalami kenaikan. Selain itu ATMR BSM juga mengalami kenaikan yang prosentasenya lebih besar dari pada kenaikan modal setiap tahunnya, yang mengakibatkan beban BSM untuk menanggung jika terjadi kerugian juga semakin tinggi. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya penurunan kinerja KPMM BSM. Namun pada tahun 2005 hingga 2007 kinerja KPMM BSM menunjukkan peningkatan, yang disebabkan oleh semakin meningkatnya modal yang dimiliki BSM. Dan dengan stabilnya KPMM BSM selama dua periode terakhir sebesar 0,12 justru akan semakin meminimalisir banyaknya dana yang menganggur, sehingga dana-dana tersebut dapat menjadi produktif. B. Rasio Kualitas Aktiva Produktif Aktiva produktif adalah penanaman dana bank dalam bentuk rupiah maupun valuta asing, kredit yang diberikan, surat berharga yang diterbitkan serta penempatan pada bank lain. Rasio Kualita Aktiva Produktif (KAP) sangat berguna untuk mengetahui bagaimana pihak bank dapat mengelola aktiva yang dimilikinya dengan sebaik-baiknya sehingga dapat menghasilkan pendapatan atau keuntungan semaksimal mungkin. KAP BSM dapat dilihat pada tabel 4.2 berikut ini: Tabel 4.2 Perhitungan Rasio Kualita Aktiva Produktif (KAP) Dalam jutaan rupiah Pos - Pos Tugas Rata - rata 2002 2003 2004 2005 2006 2007 APYD Dalam Perhatian Khusus Kurang Lancar Diragukan Macet Aktiva Produktif 82.608 6.392 5.799 27.363 1.3500.588 198.884 40.555 4.372 17.732 3.130.895 220.076 72.344 23.196 35.580 6.404.230 1.094.251 162.993 111.183 135.988 13.689.675 1.071.549 253.730 351.814 423.963 16.128.222 1.350.763 186.041 507.714 463.466 22.401.832 669.869 120.343 167.346 184.015 10.542.574 KAP 0,96 0,97 0,98 0,96 0,93 0,94 0,95 Peringkat 3 2 2 3 4 3 3 Dari perhitungan pada tabel 4.2 diatas dapat diketahui bahwa secara umum KAP BSM menunjukkan hasil yang cukup baik, karena rata-rata KAP BSM sebesar 0,95 sehingga memperoleh peringkat ketiga. KAP tertinggi terjadi pada periode 2004 yaitu sebesar 0,98 dan memperoleh peringkat kedua. Sedangkan KAP terendah terjadi pada periode 2006 yaitu hanya sebesar 0,94 sehingga memperoleh peringkat keempat. Pada periode 2007 KAP BSM mengalami sedikit peningkatan dibandingkan periode sebelumnya menjadi 0,94 dan mendapatkan peringkat ketiga. Hal ini mencerminkan bahwa kualitas aset cukup baik namun diperkirakan akan mengalami penurunan apabila tidak dilakukan perbaikan. Kebijakan dan prosedur pemberian pembiayaan dan pengelolaan resiko dari pembiayaan telah dilaksanakan dengan cukup baik dan sesuai dengan skala usaha bank, namun masih terdapat kelemahan yang tidak signifikan dan atau didokumentasikan dan diadministrasikan dengan cukup baik. Seperti ditunjukkan pada grafik 4.2 diatas bahwa perkembangan KAP BSM tidak stabil. Jika dilihat dari aktiva produktif BSM, setiap tahunnya selalu mengalami peningkatan. Namun peningkataan aktiva produktif ini kurang diimbangi dengan pengelolaan aktiva produktif tersebut dengan baik, yang menyebabkan APYD BSM mengalami peningkatan setiap tahunnya. Hal ini diakibatkan karena adanya peningkatan simpanan dana pihak ketiga yang dilakukan oleh nasabah. Sehingga BSM harus menyalurkan dana pihak ketiga tersebut dalam aktiva produktif secara optimal yang menyebabkan terjadinya jumlah peningkatan APYD. Hal inilah yang menyebabkan KAP BSM kinerjanya tidak stabil. C. Rasio Rentabilitas Rentabilitas menunjukkan kemampuan bank untuk menghasikan laba yang merupakan tujuan jangka panjang setiap usaha. Rasio yang digunakan untuk mengukur rentabilitas dalam penelitian ini adalah Net Operational Margin (NOM). Seperti yang ditunjukkan pada tabel 4.3 berikut ini: Tabel 4.3 Perhitungan Rasio Net Operational Margin (NOM)Dalam jutaan rupiah Pos - Pos Tahun Rata - rata 2002 2003 2004 2005 2006 2007 Pendapatan Operasional Distribusi Bagi Hasil Biaya Operasional Rata – rata Aktivita Produktif 197.161 71.454 84.462 125.049 337.599 148.389 166.173 260.908 686.316 269.250 276.423 533.686 959.115 386.385 435.552 1.140.806 1.079.547 455.489 523.228 1.344.019 1.407.193 511.873 728.253 1.866.819 777.822 307.140 369.015 878.548 NOM 33% 15% 26% 12% 8% 9% 12% Peringkat 1 1 1 1 1 1 1 Dari perhitungan yang ditunjukkan pada tabel 4.3 diatas dapat diketahui bahwa secara umum NOM BSM sudah sangat baik, karena mulai periode 2002 sampai 2007 NOM BSM selalu mendapatkan peringkat pertama dengan rata-ratanya sebesar 12%. NOM BSM tertinggi terjadi pada periode 2002 yaitu sebesar 33% sehingga memperoleh peringkat pertama. Sedangkan NOM BSM terendah terjadi pada periode 2006 yaitu sebesar 8% dan tetap memperoleh peringkat pertama. Hal ini mencerminkan bahwa kemampuan rentabilitas sangat tinggi untuk mengantisipasi potensi kerugian dan meningkatkan modal. Penerapan prinsip akuntansi, pengakuan pendapatan, pengakuan biaya dan pembagian keuntungan (profit distribution) telah dilakukan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Jika dilihat dari perkembanganya seperti dapat dilihat pada grafik 4.3 diatas bahwa NOM BSM cenderung mengalami penurunan kinerja setiap periodenya, meskipun pada periode terakhir 2007 mengalami sedikit peningkatan dibandingkan periode sebelumnya menjadi sebesar 9%. Sebenarnya rata-rata aktiva produktif dan pendapatan operasional BSM mengalami peningkatan setiap tahunnya, namun biaya operasional dan distribusi bagi hasil juga mengalami peningkatan yang prosentasenya lebih besar dari peningkatan pendapatan operasionalnya. Selain itu aktiva produktif BSM juga mengalami penurunan kinerja, hal ini bisa dilihat mulai periode 2002 sampai 2004 pendapatan operasional yang diperoleh selalu lebih besar dari pada rata-rata aktiva produktifnya, namun mulai periode 2005 sampai 2007 yang terjadi justru sebaliknya yaitu pendapatan operasional yang diperoleh selalu lebih kecil dari aktiva produktifnya. Penurunan aktiva produktif ini disebabkan oleh meningkatnya APYD BSM seperti dijelaskan pada rasio KAP diatas, sehingga mengurangai pendapatan yang diterima BSM. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya penurunan kinerja NOM, yang berarti bahwa kemampuan BSM dalam memperoleh laba mengalami peneurunan. Dampak dari penurunan kinerja NOM akan membuat nasabah, pemilik saham, dan pihak lainnya merasa kurang puas terhadap efisiensi Bank Syariah Mandiri dalam menghasilkan laba karena pendapatan untuk masing-masing pihak tersebut akan berkurang. Sebaliknya jika terjadi peningkatan kinerja NOM akan memperkuat kepercayaan nasabah, pemilik saham, dan pihak lainnya, karena akan memberikan mereka pendapatan yang lebih besar. D. Rasio Likuiditas Likuiditas digunakan untuk mengukur kemampuan bank dalam memenuhi kebutuhan likuiditas jangka pendek. Rasio yang digunakan untuk mengukur rasio likuiditas pada peelitian ini adalah Short Term Mismatch (STM). Seperti ditunjukkan pada tabel 4.4 berikut ini: Tabel 4.4 Perhitungan Rasio Short Term Mismatch (STM)Dalam jutaan rupiah Pos - Pos Tahun Rata - rata 2002 2003 2004 2005 2006 2007 Aktiva Jangka Pendek Kewajiban Jangka Pendek 128.322 1.134.096 289.873 2.908.447 1.070.180 6.218.755 872.738 1.742.863 1.022.211 2.412.435 1.709.451 2.578.097 848.796 2.832.449 STM 11% 10% 17% 50% 42% 66% 30% Peringkat 4 5 3 1 1 1 1 Dari perhitungan yang ditunjukkan pada tabel 4.4 diatas dapat diketahui bahwa rata-rata STM BSM menunjukkan hasil yang sangat baik yaitu sebesar 30% sehingga memperoleh peringkat pertama. STM BSM tertinggi terjadi pada periode 2007 yaitu sebesar 66% sehingga memperoleh peringkat pertama. Sedangkan STM BSM terendah terjadi pada periode 2003 yaitu sebesar 10% dan memperoleh peringkat kelima. Hal ini mencerminkan bahwa kemampuan likuiditas bank untuk mengantisipasi kebutuhan likuiditas dan penerapan manajemen risiko likuiditas sangat kuat. Dilihat dari perkembangannya seperti ditunjukkan pada grafik 4.4 bahwa kinerja STM BSM menunjukkan peningkatan kinerja setiap periodenya, peningkatan kinerja ini disebabkan karena aktiva jangka pendek BSM cenderung meningkat setiap periodenya. Meskipun pada periode 2005 aktiva jangka pendek mengalami penurunan kinerja menjadi Rp. 872.738, namun penurunan ini tidak menyebabkan kinerja STM menurun. Bahkan menunjukkan peningkatan kinerja dibandingkan pada periode sebelumnya, hal ini disebabkan karena kewajiban jangka pendek BSM juga mengalami penurunan kinerja yang cukup besar. Sehingga STM BSM justru menunjukkan peningkatan kinerja menjadi 50%. Kecenderungan peningkatan aktiva jangka pendek ini dikarenakan semakin meningkatnya DPK (Dana Pihak Ketiga) dalam jangka pendek seperti tabungan, giro serta deposito jangka pendek yang waktunya kurang dari tiga bulan. Namun peningkatan kinerja likuiditas ini juga harus diwaspadai oleh manajemen BSM. Karena jika likuiditas yang dimiliki terlalu banyak akan menyebabkan terjadiya ketimpangan yang cukup besar antara simpanan dana pihak ketiga dengan pembiayaan yang disalurkan, sehingga akan mengakibatkan bank menjadi tidak kompetitif lagi. E. Rasio Sensitivitas Terhadap Resiko Pasar (MR) Sensitivitas terhadap resiko pasar digunakan untuk mengukur kemampuan modal bank untuk mengcover risiko yang muncul akibat dari perubahan nilai tukar. Rasio yang digunakan untuk mengukur rasio sensitivitas terhadap resiko pasar adalah Market Risk. Seperti ditunjukkan pada tabel 4.5 dibawah ini: Tabel 4.5 Perhitungan Rasio Sensitivitas Terhadap Resiko PasarDalam jutaan rupiah Pos - Pos Tahun Rata - rata 2002 2003 2004 2005 2006 2007 Ekses Modal Potensial Loss 458.841 479.655 442.451 1.728.308 548.067 26.820.644 556.275 63.433.080 741.650 8.747.480 1.055.147 77.467.874 633.739 71.215.424 MR 96% 26% 2% 1% 8% 1% 1% Peringkat 1 1 5 5 3 5 5 Dari perhitungan yang ditunjukkan pada tabel 4.5 diatas dapat diketahui bahwa MR BSM secara keseluruhan menunjukkan kinerja yang sangat buruk, karena rata-rata MR BSM hanya sebesar 1% sehingga memperoleh peringkat kelima. MR BSM tertinggi terjadi pada periode 2002 yaitu sebesar 96% sehingga memperoleh peringkat pertama. Sedangkan MR BSM terendah terjadi pada periode 2005 dan 2007 yaitu sebesar 1% sehingga memperoleh peringkat kelima. Hal ini mencerminkan bahwa risiko yang harus ditanggung moderat atau tinggi, dan penerapan manajemen risiko pasar tidak efektif dan tidak konsisten. Seperti dapat dilihat pada grafik 4.5 bahwa perkembangan kinerja MR BSM menunjukkan kemunduran kinerja setiap periodenya, meskipun pada periode 2006 mengalami peningkatan kinerja menjadi 8% yang akhirnya menurun kembali pada periode selanjutnya. Penurunan kinerja ini disebabkan oleh semakin besarnya gap position valas antara aktiva dengan pasiva yang dimiliki BSM setiap tahunnya, sehingga menyebabkan terjadinya peningkatan potential loss, meskipun pada periode 2006 potential loss mengalami penurunan. Sedangkan peningkatan ekses modal jika dibandinkan dengan peningkatan potential loss prosentasenya masih terlalu kecil, oleh karena itu menyebabkan MR BSM semakin menurun setiap tahunnya. Dengan penurunan kinerja MR ini akan mengakibatkan beban yang ditanggung BSM jika terjadi kerugian akan semakin besar. V. Penutup Kesimpulan yang dapat diambil berdasarkan uraian dan pembahasan data-data yang telah dijabarkan pada bab-bab sebelumnya adalah sebagai berikut: Dilihat dari rasio Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM) mencerminkan bahwa BSM memiliki modal yang sangat kuat, sehingga jika terjadi kerugian pihak bank dapat menanggung kerugian tersebut dengan modal yang dimilikinya. Bagi nasabah yang memiliki simpanan dana di BSM tidak perlu takut dan khawatir, karena keamanan dananya dijamin oleh pihak bank dengan modal sangat kuat yang dimilikinya. Dilihat dari rasio Kualitas Aktiva Produktif (KAP) ini mencerminkan bahwa BSM belum dapat mengelola aktiva produktif yang dimilikinya dengan baik, karena aktiva produktif BSM yang diklasifikasikan dalam perhatian khusus, kurang lancar, diragukan bahkan macet selama enam periode perhitungan rata-ratanya sebesar 5%. Dilihat dari rasio Net Operating Margin (NOM) ini mencerminkan bahwa BSM merupakan bank syariah yang memiliki tingkat profitabilitas sangat baik. Sehingga bagi para investor maupun penabung BSM merupakan pilihan yang tepat untuk berinvestasi maupun menyimpan dana yang tidak produktif. Dilihat dari rasio Short Term Mismatch (STM) ini mencerminkan bahwa BSM dapat memenuhi kewajiban-kewajiban jangka pendeknya tanpa mengganggu kebutuhan likuiditas bagi nasabahnya. Sehingga bagi nasabah BSM tidak perlu takut dan khawatir jika sewaktu-waktu akan mengambil dananya, karena likuiditasnya sangat kuat. Dilihat dari rasio Seneitivitas Terhadap Resiko Pasar (MR) ini mencerminkan bahwa kemampuan BSM untuk mengcover risiko yang muncul akibat dari perubahan nilai tukar sangat lemah dan penerapan manajemen risiko pasar yang diterapkannya tidak efektif dan tidak konsisten. Sehingga BSM sangat berisiko jika melakukan transaksi valuta asing. Dilihat dari keseluruhan rasio keuangan selama enam periode pengamatan ini mencerminkan bahwa kondisi keuangan BSM tergolong baik dalam mendukung perkembangan usaha dan mengantisipasi perubahan kondisi perekonomian dan industri keuangan. Serta BSM memiliki kemampuan keuangan yang memadai dalam mendukung rencana pengembangan usaha dan pengendalian risiko apabila terjadi perubahan yang signifikan pada industri perbankan. Beberapa saran yang dapat diberikan dalam kaitannya dengan penelitian yang telah dilakukan adalah sebagai berikut: Kinerja KPMM BSM sudah sangat bagus dan harus dipertahankan agar tetap stabil. Namun dengan semakin meningkatnya dana pihak ketiga serta aktiva produktif yang dimiliki BSM, sebaiknya juga diimbangi dengan peningkatan modalnya. Karena fungsi modal adalah untuk melindungi bank jika terjadi kerugian terutama dana pihak ketiga. Kinerja KAP BSM sudah cukup bagus, namun masih harus ditingkatkan lagi. Peningkatan dana pihak ketiga harus disalurkan secara optimal oleh BSM dalam bentuk aktiva produktif. Dan dalam melakukan pembiayaan usaha harus lebih selektif lagi serta memperhatikan prinsip 5C (character, capability, collateral, condition serta capital), agar APYD BSM dapat diminimalisir. Sehingga kinerja KAP BSM dapat lebih baik lagi kedepannya. Kinerja NOM BSM sudah sangat bagus, namun perlu diwaspadai oleh pihak manajemen dengan adanya tren penurunan kinerja NOM dalam beberapa tahun terakhir. Jika hal ini tidak dilakukan antisipasi dikhawatirkan kinerja NOM BSM kedepan akan semakin memburuk. Dengan semakin meningkatnya simpanan dana pihak ketiga, manajeman BSM harus memaksimalkan likuiditas yang dimiliki tersebut pada pembiayaan-pembiayaan yang produktif. Sehingga dengan meningkatnya aktiva produktif akan meningkatkan pendapatan BSM. Kinerja STM BSM sudah sangat bagus, namun peningkatan likuiditas ini juga harus diwaspadai oleh manajemen. Karena jika likuiditas yang dimiliki terlalu banyak akan menyebabkan terjadiya ketimpangan yang cukup besar antara simpanan dana pihak ketiga dengan pembiayaan yang disalurkan, sehingga akan mengakibatkan bank menjadi tidak kompetitif lagi. Oleh karena itu BSM harus menyalurkan likuiditasnya pada pembiayaan-pembiayaan yang produktif, agar dapat meningkatkan pendapatannya. Kinerja rasio Sensitivitas terhadap Resiko Pasar BSM sangat buruk dan harus segera dilakukan perbaikan kinerja. Kedepan antara gap position valas antara pasiva dengan aktiva harus seimbang, agar resiko pasar nilai tukar dapat diminimalkan. Karena buruknya kinerja sensitivitas terhadap resiko pasar disebabkan oleh besarnya gap position valas antara pasiva dengan aktiva. Untuk mendapatkan kinerja keuangan dengan peringkat yang bagus, kelima rasio keuangan tersebut harus memiliki peringkat yang bagus juga, terutama rasio KAP yang memiliki bobot tertinggi yaitu 50%. Sehingga jika rasio KAP kinerjanya meningkat mengakibatkan kinerja keuangan bank syariah tersebut juga akan meningkat, begitu pula sebaliknya. Oleh karena itu, pihak manajemen BSM harus selalu memperbaiki dan meningkatkan kinerja keuangannya, terutama untuk rasio KAP serta MR yang kinerjanya masih perlu ditingkatkan lagi.

BAB I

PENDAHULUAN


A. Latar Belakang Masalah


Kondisi laporan keuangan dan hasil operasi (kinerja) perusahaan yang tercermin pada laporan-laporan keuangan perusahaan pada hakikatnya merupakan hasil akhir dari kegiatan akuntansi perusahaan yang bersangkutan. Informasi tentang kondisi keuangan dan hasil operasi perusahaan sangat berguna bagi berbagai pihak, baik pihak-pihak yang ada dalam perusahaan maupun pihak-pihak yang berada di luar perusahaan. Informasi yang berguna tersebut misalnya tentang kemampuan perusahaan untuk melunasi utang-utang jangka pendek, kemampuan perusahaan dalam membayar bunga dan pokok pinjaman. keberhasilan perusahaan dalam meningkatkan besarnya modal sendiri.

Seperti telah dijelaskan di atas, bahwa laporan keuangan pada dasarnya adalah hasil dari proses akuntansi yang dapat digunakan sebagai alat untuk berkomunikasi dengan pihak-pihak yang berkepentingan dengan kondisi keuangan dan hasil operasi perusahaan. Pihak-pihak yang berkepentingan tersebut adalah manajemen, pemilik, kreditur, investor, penyalur, karyawan, lembaga pemerintahan, dan masyarakat umum.

Laporan keuangan pada dasarnya merupakan refleksi dari sekian banyak transaksi yang terjadi dalam suatu perusahaan. Laporan keuangan merupakan hasil tindakan pembuatan ringkasan data keuangan perusahaan. Laporan keuangan ini disusun dan ditafsirkan untuk kepentingan manajemen dan pihak-pihak yang menaruh perhatian atau mempunyai kepentingan dengan data keuangan perusahaan.

Untuk keperluan analisis yang lebih mendalam, tidak cukup hanya didasarkan pada laporan keuangan yang disususn secara ringkas (condensed financial statement), tapi diperlukan skedul-skedul tambahan yang memperlihatkan perincian dari aktiva tanah, bangunan, peralatan, sumber-sumber alam, akumulasi penyusutan, deplesi dan amortisasi dari aktiva tetap, persediaan, investasi jangka panjang, pinjaman yang masih harus dibayar, pinjaman jangka panjang, harga pokok barang yang diproduksi, harga pokok barang yang dijual, biaya penjualan, biaya umum dan administrasi.

Informasi tersebut dapat langsung disusun sebagai bagian-bagian dalam laporan keuangannya atau ditempatkan sebagai catatan terpisah dari laporan keuangan. Juga, untuk kepentingan pengawasan manajerial, pihak manajemen memerlukan laporan akuntansi yang bersifat internal yang disusun secara harian, mingguan, bulanan, triwulanan, atau pada saat diperlukan.

Dalam kehidupan pereonomian di Indonesia, koperasi sebagai salah satu badan usaha turut berperan serta dalam pembangunan dan memajukan perekonomian Indonesia. Koperasi sebagai lembaga keuangan memiliki aktivitas menawarkan berbagai jasa keuangan kepada masyarakat. Koperasi harus memberikan keyakinan kepada masyarakat akan keamanan dana yang disimpan. Bunga atau bagi hasil yang diberikan oleh koperasi menjadi daya tarik bagi masyarakat untuk menyimpan dananya di koperasi.

Banyak bank maupun lembaga keuangan yang tumbang seiring dengan terjadinya krisis ekonomi tahun 1998 tahun 2008. Wajar jika pada akhirnya lembaga keuangan syari'ah menjadi alternatif pilihan utama untuk menyimpan dana, setelah adanya krisis kepercayaan masyarakat terhadap lembaga keuangan konvensional. Mereka menilai kinerja lembaga keuangan syari'ah lebih baik bila dibandingkan dengan lembaga keuangan konvensional. Hal ini tentu memberi motivasi bagi lembaga keuangan syari'ah untuk meningkatkan kinerjanya.

Kinerja sebuah perusahaan adalah ukuran yang menggambarkan kondisi keuangan perusahaan. Kinerja perusahaan sangat menentukan bagi preferensi masyarakat, baik stake holder maupun stock holder untuk melakukan investasi sangat ditentukan oleh kinerja perusahaan. Dalam menilai kinerja perusahaan banyak indicator yang digunakan, di antaranya financial statement baik berupa neraca yang menunjukkan posisi keuangan perusahaan pada saat tertentu, maupun laporan Laba-Rugi yang merupakan laporan operasi perusahaan selama periode tertentu. Di samping itu, kinerja juga dapat diukur dengan rasio likuiditas, rasio solvabilitas, dan rasio profitabilitas.

Ada beberapa ukuran dalam penilaian kinerja sebuah perusahaan, yaitu1) rasio profitabilitas dan rasio pertumbuhan, 2) ukuran efisiensi operasi yang mencakup menajemen aktiva dan investasi, 3) ukuran kebijakan keuangan yang mencakup rasio leverage, dan rasio likuiditas.

Analisa yang dikemukakan oleh banyak pihak, terutama para pengamat ekonomi mengungkapkan bahwa krisis ekonomi yang mendera perekonomian nasional adalah akibat kegagalan sektor usaha besar yang selama ini banyak mendapat proteksi dari pemerintah. Perusahaan-perusahaan besar, tidak cukup kuat fondasinya untuk bertahan dari terpaan badai krisis yang terjadi . Mereka mengalami kebangkrutan karena memang selama ini mereka menggantungkan sumber pendanaan pada faktor eksternal, hutang.

Fakta tentang keberhasilan usaha kecil untuk eksis di tengah situasi dan kondisi perekonomian yang tidak menentu ditentukan oleh banyak faktor. Rey (1995), misalnya mengatakan karena UKM dikelola oleh orang-orang yang memiliki kompetensi khusus, mereka mengenali titik kelemahan yang dihadapi usaha kecil dan menengah, sehingga praktis merekasecara mudah dapat mengatasinya dan mencari ketrampilan yang diperlukan untuk memastikan sukses dari dimulainya usaha mereka.

Pengelola UKM juga memahami bagaimana bagian dari suatu usaha saling berpasangan untuk membentuk keseluruhan struktur dan mengetahui bahwa jika ada suatu bagian yang hilang yang mengancam kegagalan usaha mereka. Tidak jauh berbeda dengan UKM, dengan keistimewaan dan ciri-ciri yang berbeda dengan lembaga keuangan konvensional sangat memungkinkan bagi perkembangan koperasi syari’ah.

Dalam menyalurkan pembiayaan kepada masyarakat, koperasi syari’ah sebagai sebuah lembaga bisnis yang berpegang teguh pada nilai-nilai syariah sudah barang tentu tidak ingin mengalami kerugian sebagaimana halnya lembaga-lembaga bisnis lain. Karena itu, lembaga syariah memiliki standart atau berpedoman pada prinsip kehati-hatian( prudential principles). Penerapan prinsip ini akan menjadi lebih penting karena dengan prinsip bagi hasil (profit sharing), misalnya kegagalan koperasi syari’ah dalam memperoleh keuntungan yang wajar akan langsung berakibat berkurangnya bagi hasil yang diterima masyarakat.

Secara sederhana, prinsip ini dapat dijabarkan sebagai way of thinking, seni mengelola, mengendalikan, dan mengatasi trade off yang terjadi. Bagaimana menekan trade off sampai batas seminimum mungkin. Karena prinsip ini tidak lain merupakan way of thinking pihak manajemen dalam usaha meminimalkan trade off antar risk and service. Karena itu, prinsip ini harus built in dalam setiap proses yang secara detail dituangkan dalam bentuk sistem dan prosedur (Wijaya,2000:46)

Namun, persoalannya adalah bagaimana menjadikan prinsip tersebut sebagai way of thinking para pengelola lembaga keuangan. Mengingat bisnis keuangan menyangkut jual beli apa yang disebut dengan risk and service. Risk and service ini sering kali tidak terkendali sehingga terjadi trade off. Meskipun hal ini tidak dapat dihindari dalam bisnis jasa keuangan, misalnya suatu lembaga keuangan dalam rangka menghadapi persaingan berusaha melonggarkan -nya, agar produk yang ditawarkan mudah dijual dan diminati banyak kalangan.

Sebaliknya, pada saat pelayanan itu dilonggarkan, sejak itu pula tingkat resiko bagi bank menjadi lebih tinggi. Sebaliknya, kalau unsure risk-nya ditingkatkan, service yang diberikan akan berkurang, sehingga produk menjadi sulit dipasarkan.

Dengan memperhatikan beberapa faktor tersebut, maka lembaga keuangan syari’ah dalam operasionalisasinya akan dapat menepis berbagai kemungkinan yang menjurus pada kerugian. Sebaliknya faktor tersebut akan menjadi penentu bagi keberhasilan lembaga keuangan syari’ah sebagai pemegang amanah untuk menjalankan fungsi utamanya dalam menghimpun dan menyalurkan dana dari dan kepada masyarakat untuk berbagai kegiatan produktif.

Per 31 Desember 2008, jumlah aset yang dmiliki Koperasi Syar'iah BMT Amanah Bojonegoro mencapai Rp 1860.554.580. Besarnya aset yang dimiliki menjadi sebuah tantangan tersendiri bagi pengurus dan pengelola Koperasi Syariah BMT Amanah Bojonegoro. Dengan melihat perkembangan aset yang dimiliki pada saat ini, adanya penambahan usaha sektor riil, usaha perdagangan yang dirintis dengan melakukan kerja sama sistem syirkah dengan Syahroni dan toko baju yang berada di jl Mastrip ( dekat Gedung Wanita) menunjukkan bahwa kinerja Koperasi Syari'ah BMT Amanah Bojonegoro baik.

Sebagai sebuah lembaga keuangan syari'ah, maka dalam melakukan penilaian kinerja Koperasi Syari'ah BMT Amanah Bojonegoro. Harus mengacu pada peraturan-peraturan dan ketentuan-ketentuan yang berlaku. Hal inilah yang menarik minat penulis untukk mehgkaji kinerja Koperasi Syari'ah BMT Amanah Bojonegoro berdasarkan laporan keuangannya.

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah tersebut di atas, identifikasi masalah dalam skripsi ini adalah sebagai berikut:

Belum adanya analisis terhadap laporan keuangan yang dilakukan oleh dewan pengawas untuk mengukur kinerja keuangan Koperasi Syari'ah BMT Amanah Bojonegoro.

C. Rumusan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah tersebut di atas, maka rumusan masalahnya adalah sebagai berikut:

“ Bagaimanakah perkenbangan dan kinerja Koperasi Syariah BMT Amanah Bojonegoro?”

D. Tujuan dan Manfaat Penelitian

  1. Tujuan Penelitian

  1. Mengetahui perkembangan Koperasi Syari'ah BMT Amanah Bojonegoro.

  2. Mengetahui kinerja Koperasi Syari'ah BMT Amanah Bojonegoro.

  1. Manfaat Penelitian

  1. Bagi peneliti

Dapat menerapkan teori-teori yang didapatkan selama kuliah dan mengaplikasikannya di lapangan.

  1. Bagi Koperasi Syariah BMT Amanah Bojonegoro

Masukan yang dapat menjadi bahan pertimbangan bagi dewan pengawas dan pengelola, serta dapat dimanfaatkan sesuai dengan kebutuhan guna meningkatkan kinerja Koperasi Syari'ah BMT Amanah Bojonegoro.

  1. Bagi STIE Cendekia Bojonegoro

Menambah referensi pustaka di STIE Cendekia Bojomegoro karena selama ini belum ada karya tulis mengenai “Analisis Laporan Keuangan sebagai Dasar Pengukuran Kinerja pada Lembaga Keuangan Syari'ah”.

  1. Bagi Pihak Lain

Menambah wawasan mengenai analisis laporan keuangan.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA


A. Pengertian Laporan Keuangan


Martono dan Harjito (2005:51) mengemukakan bahwa laporan keuangan adalah:


“Merupakan ikhtisar mengenai keadaan keuangan suatu perusahaan pada suatu saat tertentu.Laporan keuangan secara garis besar dibedakan menjadi 4 macam, yaitu laporan neraca, laporan laba rugi, laporan perubahan modal dan laporan aliran kas. Dari keempat nacam laporan tersebut dapat diringkas lagi menjadi 2 macan, yaitu laporan neraca dan laporan laba rugi saja. Hal ini karena laporan perubahan modal dan laporan aliran kas pada akhirnya akan diikhtisarkan dalam laporan neraca dan atau laporan laba rugi”.


Definisi laporan keuangan menurut Djarwanto (2004:2) adalah “hasil dari proses akuntansi yang dapat digunakan sebagai alat untuk berkomunikasi dengan pihak-pihak yang berkepentingan dengan kondisi keuangan dan hasil operasi perusahaan”. Pihak-pihak yang berkepentingan tersebut adalah manajemen, pemilik, kreditur, investor, penyalur, karyawan, lembaga pemerintah, dan masyarakat umum.

Jadi pada dasarnya laporan keuangan adalah hasil dari proses akuntansi yang dapat digunakan sebagai alat untuk berkomunikasi dengan pihak –pihak yang berkepentingan dengan data atau aktivitas perusahaan tersebut.

B. Pengertian Koperasi

Menurut Sumarsono (2004:1) koperasi adalah “ suatu perkumpulan yang beranggotakan orang-orang atau badan-badan hukum koperasi yang memberikan kebebasan masuk dan keluar sebagai anggota, dengan bekerjasama secara kekeluargaan menjalankan usaha untuk mempertinggi kesejahteraan para anggotanya”.

Berdasarkan UU Nomor 25 Tahun 1992 Pasal 1 ayat (1) tentang perkoperasian menjelaskan bahwa koperasi adalah “ badan usaha yang beranggotakan orang-orang atau badan hukum koperasi dengan melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasarkan atas asas kekeluargaan.

C. Pengertian Kinerja

Penampilan suatu lembaga keuangan dilihat dari hasil nyata kegiatan dalam memperoleh dana murni masyarakat. Adanya dana yang masuk, tentunya akan memacu kinerja baik pengurus maupun pengelola sebagai pengemban amanat masyarakat. Adapun pengertian dari kinerja adalah sebagai berikut:sebagai berikut:

“Kinerja merupakan terjemahan dari performance berdasarkan kamus bisnis dan manajemen adalah hasil nyata yang dicapai kadang-kadang dipergunakan untuk menunjukkan dicaainya hasil yang positif”. (Amin Wijaya, dalam JREM: 1995:63)


Oleh karena itu setiap unit usaha akan selalu mengukur dari memiliki kinerja usahanya agar diketahui tingkat hasil nyata yang dapat dicapai dalam unit tersebut dalam kurun waktu tertentu, karena masyarakat bisnis sangat menginginkan agar badan usaha pada sektor lembaga keuangan ini sehat dan maju sehingga dapat dicapai efisiensi dana berupa biaya dana yang murah dan efisien.

Penilaian kinerja dapat diketahui melalui perhitungan ratio finansial dan semua laporan keuangan yang disajikan oleh lembaga keuangan. Ukuran yang lazim dipergunakan untuk mengukur kinerja lembaga keuanga berdasarkan SK Men Keu Nomor Kep/792/MK/IV/12?1970, tanggal 7 Desember 1970 tentang Lembaga Keuangan yang telah diubah dan ditambah terakhir dengan Keputuan Menteri Keuangan No. 280/KMK.01/1989, tanggal 25 Maret 1989 tentang Pengawasan dan Pembinaan Lembaga Keuaangan Bukan Bank dan serta ditindak lanjuti dengan surat edaran Bank Indonesia No. SE.32/21/BPPP disebutkan bahwa penilaian kinerja lembaga keuangan meliputi:

  1. Penilaian Permodalan (Bobot nilai 20)

Komponen Penilaian Permodalan meliputi:

  1. Ratio antara modal sendiri terhadap total asset

Untuk memperoleh ratio antara modal sendiri terhadap aset ditetapkan sebagai berikut:

 Untuk ratio permodalan lebih kecil atau sama dengan 0 diberikan nilai kredit 0

 Untuk setiap kenaikan ratio modal 1% melalui dari 0 nilai kredit ditambah .. dengan maksimum 100.

 Nilai kredit dikalikan bobot sebesar 10% diperoleh skor permodalan.



Rumus Ratio Modal Sendiri terhadap Total Aset:

Modal Sendiri (MS)

= X 100%

Total Aset

  1. Ratio Modal Sendiri terhadap Pembiayaan yang beresiko

Untuk memperoleh ratio modal sendiri terhadap pembiayaan yang berresiko:

 Untuk ratio permodalan lebih kecil atau sama dengan 0 diberikan nilai kredit 0

 Setian kenaikan ratio modal sebesar 1% melalui dari 0 nilai kredit ditambah dengan maksimum nilai 100

 Nilai kredit dikalikan bobot sebesar 10% diperoleh skor permodalan.

Rumus Ratio modal sendiri terhadap pembiayaan diberikan yang beresiko:

Modal Sendiri (MS)

= X 100%

Pembiayaan yang Diberikan yang Beresiko (PDB)

2. Penilaian Kualitas Aktiva Produktif (KAP) (Bobot 30)

Komponen kualita aktiva produktif yang dinilaiadalah;

    1. Ratio antara volume pembiayaan kepada anggota terhadap total volume pembiayaan yang diberikan.

Ketentuan:

  1. Ratio sama dengan atau lebih besar 60% nilai kredit 100

  2. Ratio lebih kecil 60% nilai kredit 0

  3. Nilai kredit dikalikan 10% =skor

Rumus ratio antara volume pembiayaan kepada anggota terhadap volume pembiayaan yang diberikan:

Volume Pembiayaan Kepada Anggota

= X 100%

Total Volume Pembiayaan yang Diberikan

b. Ratio antara resiko pembiayaan bermasalah yang diberikan

Ketentuan Penilaian:

  • Ratio 50% atau lebih, nilai kredit 0

  • Penurunan ratio 1% nilai kredit ditambah 2 dengan maksimum nilai 100

  • Nilai dikalikan bobot 10%=skor

Rumus ratio antara resiko pembiayaan masalah yang diberikan :

Pembiayaan Bermasalah

= X 100%

Pembiayaan Diberikan

  1. Ratio cadangan resiko terhadap resiko pembiayaan bermasalah

Ketentuan penilaian :

      • Ratio 0% tidak mempunyai cadangan penghapusan nilai 0

      • Setiap kenaikan 2% mulai dari 0% ditambah 1 dengan maksimum 100

      • Nilai kredit dikalikan bobot 10% diperoleh skor

Rumusan Ratio cadangan resiko terhadap resiko pembiayaan bermasalah :


Cadangan Resiko

= X 100%

Resiko Pembiayaan Bermasalah

      1. Penilaian Manajemen. ( Bobot Nilai 25 )

Ketentuan Penilaian :

      • Perhitungan nilai kredit berdasarkan kepada hasil penilaian atas jawaban pertanyaan manejemen sebanyak 25.

      • Selanjutnya dilakukan kualifikasi dengan cara memberi nilai kredit sebesar 4 tempat setiap aspek yang dinilai positif. Nilai bobot dikalikan bobot sebesar 25% diperoleh skor manajemen.

Penilaian Manajemen meliputi beberapa komponen yaitu :

        1. Permodalan

Penilaian Permodalansuatu lembaga keuangan dilihat dari :

      • Tingkat pertumbuhan modal sendiri sama atau lebih besar dari tingkat pertumbuhan aset.

      • Tingkat pertumbuhan modal sendiri yang berasal dari anggota sekurang – kurangnya sebesar 10% sebanding tahun sebelumnya.

      • Penyisihan cadangan dari SHU sama atau lebih besar dari seperempat SHU tahun berjalan.

      • Simpanan (Tabungan koperasi dan simpanan berjangka koperasi) minimal 10% dari tahun berjalan.

      • Investasi harta tetap dan investasi serta biaya expansi perkantoran dibiayai dengan modal sendiri.

  1. Kualitas Aset

Penilaian kualitas asset suatu lembaga keuangan dilihat dari :

      • pembiayaan lancar minimal sebesar 90% dari pembiayaan yang diberikan.

      • Setiap pembiayaan yang diberikan didukung dengan anggunan yang dinilai sama atau lebih besar dari pembiayaan yang diberikan.

      • Dana cadangan penghapusan pembiayaan sama atau lebih besar dari tahunan pembayaran macet.

      • Pembiayaan macet tahun lalu dapat ditarik sekurang – kurangnya sepersepuluh.

      • Koperasi senantiasa memantau agar prosedur pembiayaan dilaksanakan dengan baik.

  1. Pengelolaan

Penilaian pengelolaan lembaga keuangan dapat dilihat dari :

      • Memiliki rencana kerja jangka pendek tahunan yang meliputi :

    1. Penghimpun simpanan dan pemberian pembiayaan

    2. Pendanaan

    3. Pendapatan dan Biaya

    4. Personal

      • Memiliki bagian organisasi yang memuat secara jelas garis wewenang dan tanggung jawab setiap unit kerja dan disiplin kerja.

      • Mempunyai system dan prosedur tertulis mengenai pengendalian intern tentang pengamanan asset koperasi yang mencakup kas, harta tetap dan harta likuid lainnya.

      • Memiliki program pendidikan dan latihan bagi pengelola dan anggota.

      • Memiliki kebijakkan tertulis yang mengatur bahwa pengurusan dan pengelola tidak diperbolehkan memanfaatkan posisi dan kedudukkannya untuk kepentingan pribadi.


  1. Rentabilitas

Penilaian rentabilitas lembaga keuangan dapat dilihat dari :

      • Memiliki ketentuan tentang pengisian, penghapusan piutang cadangan resiko untuk menutup kerugian yang diperkirakan karena macet.

      • Memiliki ketentuan bahwa semua pengeluaran biaya harus didukung dengan bukti – bukti yang dapat dipertanggung jawabkan.

      • Memiliki ketentuan tidak akan memberikan pembiayaan yang bersifat spekulatif yaitu pembiayaan yang menghasilkan keuntungan tinggi tetapi beresiko tinggi.

      • Memiliki ketentuan mengenai pembatasan pemberian pembiayaan kepada anggota baru.

      • Dalam pemberian pembiayaan koperasi lebih menitik beratkan atas kemampuan pembiayaan untuk mengembalikan pembiayaanya dari pada tersedianya anggunan.

  1. Likuiditas

      • Memiliki kebijaksanaan tertulis mengenai pengendalian likuiditas.

      • Memiliki fasilitas pembiayaan yang akan diterima dari lembaga lain untuk menjaga likuiditasnya.

      • Memiliki pedoman administrasi yang efektif untuk memantau kewajiban yang jatuh tempo.

      • Memiliki ketentuan yang mengatur hubungan antara jumlah pemberian pembiayaan dengan jumlah dana yang ada.

      • Memiliki system informasi manajemen yang menandai untuk pemantauan likuiditas.

          1. Penilaian Rentabilitas (Bobot Nilai 15)

Komponen penilaian rentabilitas terdiri dari :

            1. Ratio SHU sebelum pajak terhadap pendapatan operasional

Ketentuan :

      • Untuk ratio 0% atau negative diberi nilai kredit 0

      • Untuk setiap kenaikan ratio 1% mulai dari 0% nilai kredit ditambah 20 dengan maksimum nilai 100.

      • Nilai kredit dikalikan bobot sebesar 5% diperoleh skor.

Rumus Ratio SHU sebelum pajak terhadap pendapatan operasional.

SHU sebelum pajak

= X 100%

Pendapatan Operasional

  1. Ratio SHU sebelum pajak terhadap total asset

Ketentuan :

      • Untuk ratio 0 atau negatif diberi nilai kredit 0

      • Setiap kenaikan ratio SHU 1% mulai dari 0% nilai kredit ditambah 10 sampai dengan maksimum 100

      • Nilai kredit dikalikan dengan bobot sebesar 5% diperoleh skor

Rumus ratio SHU sebelum pajak terhadap total asset :

SHU sebelum pajak

= X 100%

Total Asset

  1. Ratio beban operaaional terhadap pendapatan operasional

Ketentuan :

- Untuk ratio 100% atau lebih diberi nilai kredit 0

      • Untuk setiap penurunan ratio sebesar 1% mulai dari 100% nilai kredit ditambah 10 sampai dengan maksimum 100

      • Nilai kredit dikalikan dengan bobot sebesar 5% diperoleh skor

Rumus ratio beban operasional terhadap pendapatan operasional :

Beban Operasional

= X 100%

Pendapatan Operasional

    1. Penilaian likuiditas (Bobot Nilai 10)

Penilaian Likuiditas terhadap Likuiditas didasarkan atas ratio antara pinjaman yang diberikan terhadap dana yang diterima.

Dana yang diterima terdiri dari :

    1. Modal Sendiri

    2. Modal Pinjaman

    3. Modal Penyertaan

    4. Simpanan Anggota

Ketentuan Penilaian :

  1. Untuk ratio 90% atau lebih, diberi nilai kredit 0

  2. Untuk ratio dibawah 90% diberi nilai kredit 100

  3. Nilai kredit dikalikan bobot sebesar 10% diperoleh skor likuiditas

Rumus Likuiditas :

Pinjaman yang Diberikan

= X 100%

Dana yang diterima

D. Penggunaan Dana di Koperasi Syari’ah

Dalam mengelola dana kelompok, pengurus akan dihadapkan pada persoalan bagaimana mendayakan dana yang tersedia seoptimal mungkin dan mengurangi resiko sekecil mungkin. Selain hal tersebut, mengingat keberadaan USP- Koperasi Syari’ah semata – mata sebagai alat untuk meningkatkan kesejahteraan anggota maka penggunaan dana seyogyanya digunakan untuk mengembangkan kehidupan sosial ekonomi anggota secara optimal. Adapun yang dimaksud dengan penggunaan dana adalah sebagai berikut :

Penggunaan dana adalah transaksi – transaksi unit simpan pinjam Koperasi Syari’ah yang dapat mengakibatkan bertambahnya harta tetap, berkurangnya modal atau kerugian. (Team PINBUK PUSAT, 1998 : 62)

Jenis – jenis penggunaan dana Koperasi Syari’ah dapat dikelompokkan sebagai berikut :

  1. Penggunaan yang bersifat produktif

      • Untuk pembiayaan kepada anggota

      • Untuk investasi, misalnya tabungan dibank atau investasi untuk usaha kelompok

  1. Penggunaan yang bersifat non produktif

      • Biaya operasional ( ongkos kantor, gaji karyawan, administrasi, konsumsi rapat, transport, dll )

      • Pembelian inventaris (meja, kursi, lemari, kalkulator, kendaraan, dll)

  1. Penggunaan dana untuk perkembangan kelompok dan lingkungannya

      • Dana pendidikan ( pelatihan untuk pengurus, karyawan dan anggota )

      • Dana sosial ( dana kesehatan, dana kematian dan lain – lain )

  1. Pengguna untuk memenuhi kewajiban dan menanggulanginya resiko

USP – Koperasi Syari’ah

      • Pemberian bagi hasil kepada anggota

      • Pembayaran kembali simpanan khusus / berjangka kepada penyimpan

      • Pembayaran di Bank

      • Penambahan dana cadangan

      • Jasa pinjaman dari pihak lain

  1. Pembayaran bagian laba untuk anggota

      • Pemberian SHU

      • Bonus pengelola

E. Metode dan Teknik Analisis Laporan Keuangan


Ada beberapa macam metode dan teknik analisis laporan keuangan yang dapat dibuat. metode dan teknik analisis laporan keuangan tersebut antara lain seperti disebut di bawah ni:

1. Analisis perbandingan neraca, laporan laba-rugi, dan laporan laba yang ditahana dengan menunjukkan:

a. data absolut (jumlah dalam rupiah);

b. kenaikan dan penurunan dlam jumlah rupiah;

c. kenaikan dan penurunan dalam jumlah persen;

d. perbandingan yang dinyatakan dalam rasio;

e. persentase dari total.

2. Analisis perubahan modal kerja.

3. Analisis tren dari rasio unsur-unsur neraca dan data operasi yang ada kaitannya.

4. Analisis persentase per komponen dari neraca dan laporan laba-rugi

5. Analisis rasio yang memperlihatkan hubungan beberapa unsur neraca , laporan laba-rugi, dan kedua laporan keuangan tersebut.

6. Analisis perbandingsn dengan rasio industri.

7. Analisis perubahan pendapatan neto atau analisis perubahan laba bruto.

8. Analisis titik impas atau analisis break-even point (BEP).

F. Jenis Analisis Laporan Keuangan

Pada dasarnya ada empat jenis analisis yang dapat dilakukan: analisis internal, analisis eksternal, analisis horizontal, dan analisis vertikal.

Analisis internal adalah analisis yang dilakuka oleh mereka yang bisa mendapatkan informasi yang lengkap dan terperinci mengenai suatu perusahaan..

Analisis eksternal adalah analisis yang dilakukan oleh mereka yang tidak dapat mndapatkan data yang terperinci mengenai suatu perusahaan.

Analisis horizontal, time series techniques, atau disebut juga analisis perkembangan data keuangan dan data oprasi perusahaan dari tahun ke tahun guna mengetahui kekuatan dan klemahan perusahaan yang bersangkutan (misalnya analisis tren).

Analisis vertikal, cross sectional techniques, atau sebut juga analisis statis adalah analisis laporan keuangan yng terbatas hanya pada satu periode akuntansi saja, misalnya berupa analisis rasio.

G. Analisis Ratio

Alat yang umum digunakan sebagai alat penilaian kinerja perusahaan atau koperasi adalah rasio keuangan. Rasio keuangan adalah indeks yang menghubungkan dua angka akuntansi dan didapat dengan membagi satu angka engan angka yang lainnya.

Ada beberapa rasio keuangan untuk menilai kinerja keuangan perusahaan atau koperasi,yaitu:

a. Likuiditas


Menurut Martono dan Harjito (2005:18) likuiditas adalah :


“ Kemamapuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban keuangan (financial) jangka pendek atau yang segera dipenuhi. kewajiban financial jangka pendek tersebut meliputi kewajiban untuk membayar hutang jangka pendek (disebut likuiditas badan usaha ) dan kewajiban untuk membiayai kegiatan operasi/produksi yang ada di perusahaan ( disebut likuiditas perusahaan ). Analisis likuiditas dapat dilakukan dengan menganalisis unsur-unsur neraca yang ada pada aktiva lancar dab hutang lancar”.



Husnan dan Pudjiastuti (2004:71) mengemukakan bahwa likuiditas adalah “kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban keuangan jangka pendek”. Perusahaan disebut likuid bilamana mampu memenuhi kewajiban keuangannya tepat pada waktunya, yaitu apabila perusahaan tersebut mempunyai aktiva lancar yang lebih besar daripada total hutang lancar. Sedangkan perusahaan disebut ilikuid bilamana perusahaan tersebut tidak dapat memenuhi kewajiban keuangannya tepat pada waktunya

Pengertian likuiditas adalah kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Pengertian lain yang tidak jauh berbeda adalah kemampuan perusahaan untuk memenuhi utang yang segera harus dibayar.


1. Rasio Lancar (Current Ratio)


Total Aktiva Lancar

Rasio Lancar = X 100%

Total Hutang Lancar


2 .Rasio Modal Kerja dengan Total Aktiva


Rumus Rasio Modal Kerja dengan Total Aktiva


Aktiva Lancar -- Hutang Lancar

= X 100%

Jumlah Aktiva

b.Rentabilitas


Menurut Martono dan Harjito (2005:18) rentabilitas adalah “ kemampuan perusahaan untuk memperoleh laba dari modal yang digunakan untuk menghasilkan laba tersebut”. Husnan dab Pudjiastuti (2004:72) mengemukakan bahwa rentabilitas adalah “ kemampuan sesuatu perusahaan untuk menghasilkan keuntungan dibandingkan dengan modal dan dinyatakan dalam prosentase”.

Rentabilitas atau profitabilitas sendiri memiliki pengertian kemampuan suatu perusahaan dalam menciptakan keuntungan (profit) dan tingkat keefektifitasannya selama periode tertentu,

1) Ratio Laba Usaha dengan Aktiva Usaha

Laba Usaha

Ratio Laba Usaha dengan Aktiva Usaha = X 100%

Aktiva Usaha


2) Rate of ROI

Laba Bersih (sebelum Pajak)

Rate of ROI = X 100%

Jumlah Aktiva Usaha


3) Net Rate of ROI

Laba Bersih (sesudah Pajak)

Net Rate of ROI = X 100%

Jumlah Aktiva Usaha




4)Rentabilitas Modal Sendiri

Laba Bersih (sesudah Pajak)

Rentabilitas Modal Sendiri = X 100%

Modal Sendiri


c.Solvabilitas


Solvabilitas adalah kemampuan suatu perusahaan untuk membayar utang dalam jangka panjang. Bisa dibilang solvabilitas dapat menunjukkan kemampuan suatu perusahaan dalam melunasi seluruh utangnya bila memang kondisi perusahaan tersebut dalam kondisi yang terpuruk.

1. Ratio Modal Sendiri dengan Aktiva


Modal Sendiri

Ratio Modal Sendiri dengan Aktiva = X 100%

Total Aktiva


2. Rasio Modal dengan Aktiva Tetap


Modal Sendiri

Rasio Modal dengan Aktiva Tetap = X 100%

Aktiva Tetap



3. Ratio Aktiva Tetap dengan utang Jangka Panjang


Aktiva Tetap

Ratio Aktiva Tetap dengan

Hutang Jangka Panjang = X 100%

Hutang Jangka Panjang



4. Ratio Hutang Jangka Panjang dengan Modal Sendiri


Hutang Jangka Panjang

Ratio Hutang Jangka Panjang

denganModal Sendiri = X 100%

Modal Sendiri



5. Ratio Hutang dengan Modal Sendiri


Hutang Lancar + Hutang Jangka Panjang

Ratio Hutang dengan

Modal Sendiri = X 100%

Modal Sendiri


Likuiditas, solvabilitas dan rentabilitas sangat berperan penting. untuk mengetahui prospek sebuah badan usaha dilanjutkan atau dihentikan dapat mengacu pada ketiga konsep ini. Dengan melihat kemampuan badan usaha, sejauh mana kemampuan badan usaha tersebut mampu menghasilkan laba dalam kurun waktu tertentu dan sejauh mana badan usaha tersebut mampu melunasi semua kewajiban ( utang usaha ) bila kondisi perusahaan sedang dalam keadaan kritis. Selain itu, juga bisa diketahui lebih detail mengenai kesehatan dari badan usaha tersebut.

H. Penelitian Terdahulu

    1. Estu Malichah. 2006. STIE Cendekia Bojonegoro. Perlakuan akutansi pembiayaan Murobahah dalam laporan keuangan pada BMT Amanah Bojonegoro. Kesimpulan: Pencatatan pembiayaa Murobahah belum sesuai dengan pernyataan standart akuntansi keuangan (PSAK). Pengakuan pendapatan pada dasarnya sama dengan PSAK. Pada saat penerimaan angsuran pada dasarnya sama dengan PSAK yaitu, mengurangi jumlah pembiayaan Murobahah.

    2. Praba Kencana. 2008. STIE Cendekia Bojonegoro. Penetapan Margin Keuntungan Prodak Pembiayaan Murabahah dan Sistem Akuntansinya (Studi Kasus di BMT Amanah Bojonegoro). Penetapan Margin keuntungan yang dilakukan oleh BMT tidak bertentangan dengan ketentuan syari’ah karena hukum syari’ah tidak menetapkan besarnya margin keuntungan yang boleh diambil asal tidak memberatkan nasabah dan nasabah menerima. Proses pencatatan pembayaran Murabahah di BMT Amanah dimulai dari membuat kas masuk-kas keluar. Laporan R/L kemudian laporan neraca.

H. Penelitian Sejenis

Yarnest. 2002. Universitas Merdeka Malang. Analisis laporan keuangan sebagai alat untuk mengetahui kinerja keuangan koperasi (studi kasus pada Koperasi Karyawan Yayasan Universitas Merdeka Malang). Kesimpulan : kemampuan koperasi untuk memenuhi kewajiban jangka pendeknya (likuiditas) sangat tinggi, aktiva yang digunakan untuk menjamin utang (leverage) relatif cukup memadai, kinerja keuangan (rasio aktivitas) koperasi dinilai sangat rendah, dan kemampuan koperasi untuk menghasilkan laba(profitabilitas) sangat rendah.

  1. Luciana Spica Almalia dan Emanuel Kristijadi.2003. Universitas Kristen Petra Surabaya. “Analisis Rasio Keuangan Untuk Memprediksi Kondisi Financial Distress Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar Di Bursa Efek Jakarta”. Kesimpulan: rasio-rasio keuangan dapat digunakan untuk memprediksi financial distress suatu perusahaan. Rasio keuangan yang paling dominan dalam menentukan financial distress suatu perusahaan adalah rasio profit marginyaitu laba bersih dibagi dengan penjualan (NI/S), Rasio financial leverage yaitu hutang lancar dibagi dengan total aktiva (CL/TA). Rasio likuiditas yaitu aktiva lancar dibagi dengan hutang lancar (CA/CL).

  2. Linda Novvalianti.2007. Analisis Kinerja Keuangan PT. (Persero) Asuransi Kesehatan Indonesia Periode 2001 – 2005. Keseimpulan :terjadi penurunan tenhadap Total Asset Turn Over dan tingginya tingkat Average Collection Periode tahun 2005 dibanding tahun-tahun lain yang dianalisa menyebabkan pengumpulan piutang menjadi lebih lama. Pada rasio rasio profitabilitas juga terjadi penurunan, hal ini berarti perusahaan harus melakukan efisiensi terutama biaya pokok dan biaya operasional agar laba bisa meningkat.

  3. Ira Maulida Adliyani. 2008. Analisis Laporan Keuangan sebagai Alat Ukur Kinerja Manajemen Keuangan pada KPRI PRIMKOPARIN Padangan. Kesimpulan: tiga unit koperasi menunjukkan ROI yang telah memenuhi standart kinerja pusat laba (di atas 0%).

  4. Budi Satrio Jati.2008.Analisis Laporan Keuangan PT Hanjaya mandala Sampoerna Tbk dan Anak Perusahaan Periode 2002-2006.Keseimpulan : terjadinya peningkatan pada beberapa kelompok rasio seperti pada activity ratio, leverage ratio, valuation ratio, dan profitability ratio, kecuali pada gross profit margin yang menunjukkan sedikit penurunan.Likuiditas perusahaan menunjukkan trend yang terus menurun. Penurunan tersebut menunjukkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan kas untuk membayar hutang, reinvestasi, dan deviden serta jumlah investasi yang dibiayai oleh arus kas dari aktivitas operasi semakin menurun.

  5. Yunanto Adi Kusumo.2008.Analisis Kinerja Keuangan Bank Syariah Mandiri Periode 2002 – 2007 (dengan Pendekatan PBI No. 9/1/PBI/2007). kesimpulan: Dilihat dari rasio Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM) mencerminkan bahwa BSM memiliki modal yang sangat kuat.Dilihat dari rasio Kualitas Aktiva Produktif (KAP) ini mencerminkan bahwa BSM belum dapat mengelola aktiva produktif yang dimilikinya dengan baik.Dilihat dari rasio Net Operating Margin (NOM) ini mencerminkan bahwa BSM merupakan bank syariah yang memiliki tingkat proftabilitas sangat baik. Dilihat dari rasio Short Term Mismatch (STM) ini mencerminkan bahwa BSM dapat memenuhi kewajiban-kewajiban jangka pendeknya tanpa mengganggu kebutuhan likuiditas bagi nasabahnya.Dilihat dari rasio Sensitivitas Terhadap Resiko Pasar (MR) ini mencerminkan bahwa kemampuan BSM untuk mengcover risiko yang muncul akibat dari perubahan nilai tukar sangat lemah dan penerapan manajemen risiko pasar yang diterapkannya tidak efektif dan tidak konsisten.Dilihat dari keseluruhan rasio keuangan selama enam periode pengamatan ini mencerminkan bahwa kondisi keuangan BSM tergolong baik dalam mendukung perkembangan usaha dan mengantisipasi perubahan kondisi perekonomian dan industri keuangan. Serta BSM memiliki kemampuan keuangan yang memadai dalam mendukung rencana pengembangan usaha dan pengendalian risiko apabila terjadi perubahan yang signifkan pada industri perbankan.


BAB III

METODOLOGI PENELITIAN


A. Jenis Penelitian

Ditinjau dari metode atau cara yang dipakai, penelitian yang digunakan dalam skripsi ini adalah penelitian kualitatif engan pendekatan studi kasus.

Penelitian kualitatif menurut Kirk dan Miller (1986:9) pada mulanya bersumber pada pengamatan kualitatif yang dipertentangkan dengan pengamatan kuantitatif. Lalu mereka mendefinisikan bahwa metodologi kualitatif adalah tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial yang secara fundamental bergantung pada pengamatan pada manusia dalam kaasannya sendiri dan berhubungan dengan orang-orang tersebut dalam bahasanya dan dalam peristilahannya .

Menurut Wiratha(2005:134) Penelitian kualitatif penelitian naturalistik) adalah penelitian yang dilakukan pada kondisis obyek yang alami. Penelitian kualitatif bersifat deskriptif karena analisis data yang dilakukan tidak untuk menerima atau menolak hipotesis (jika ada) melainkan berupa deskripsi atas gejala-gejala yang diamati, yang tidak selalu harus berbentuk angka-angka atau koefisien antar variabel.

Ditinjau dari tarafnya penelitian ini adalah penelitian deskriptif.

B. Populasi, Sampel dan Teknik Sampling

1.Populasi

Menentukan populasi yang akan menjadi objek penelitian merupakan langkah pertama yang harus dilakukan dengan cermat sesuai dengan masalah yang diteliti. Menurut Pabundu (2006:33) “populasi adalah himpunan individu atau objek yang banyaknya terbatas dan tidak terbatas “. Sedangkan menurut Arikunto (2006:130) “populasi adalah keseluruhan objek penelitian”.

Berdasarkan pendapat di atas, populasi penelitian ini adalah seluruh laporan keuangan Koperasi Syari’ah BMT Anabah Bojonegoro periode tahun 2004 sampai dengan tahun 2008.

2.Sampel

Pengertian sample menurut pabundu (2006:33) adalah “Bagian suatu subjek atau objek yang mewakili populasi”. Menurut Wiratha (2005:233) sample adalah “suatu bagian populasi yang akan diteliti dan dianggap dapat menggambarkan populasi”

Adapun yang menjadi sample dalam penelitian ini adalah Laporan Neraca dan Laporan Laba Rugi Koperasi Syari’ah BMT Amanah Bojonegoro periode tahun 2006 sampai dengan tahun 2008.

3.Teknik Sampling

Menurut Tim Dosen Pembimbing STIE Cendekia Bojonegoro (2008:19), “besar sample yang akan diambil dan bagaimana sampel tersebut ditarik disebut dengan teknik pengambilan sampel. Dan cara mengambil sampel dari objek penelitian disebut dengan teknik sampling”.

Teknik Sanpling yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling, yaitu teknik pengambilan sampel dengan cara mengambil subjek bukan didasarkan atas sastra, random, atau daerah tetapi didasarkan atas adanya tujuan tertentu ( Arikunto,2006:139).

C. Metode dan Teknik Pengumpulan Data

1.Metode Pengumpulan Data

Untuk memperoleh data yang relevan dengan masalah yang diteliti, maka penulis menggunakan case study sebagaimrtod pengumpulan data. Pengertian case study menurut Tim Dosen Pembimbing STIE Cendekia Bojonegoro (2008:20) adalah “ pengumpulan data dengan mengambil beberapa elemen dan kemudian masing-masing elemen diselidiki secara mendalam , kesimpulan yang ditarik hanya berlaku untuk elemen-elemen yang diteliti”.

2.Teknik Pengumpulan Data

Ada 2 sumber data dalam pnelitian ini, yaitu data primer dan data sekunder.

  1. Data Primer

Data primer adalah data yang diperoleh peneliti, baik secara langsung dari responden atau data yang ada hubungannya dengan masalah yang diteliti. Teknik pengumpulan data primer dalampenelitian ini adalah sebagai berikut:

a. Wawancara

Wawancara atau interview adalah teknik pengumpulan data dengan cara tanya jawab secara langsung terhadap responden untuk memperoleh data yang aktual terkait dengan masalah yang dikaji.

b. Observasi

Observasi dapat diartikan melihat atau mengamati, yaitu menyaksikan dengan suatu sistem tertentu secara ilmiah untuk mengerti unsur yang dipelajari. Menurut Pabundu (2006:58) “observasi adalah cara dan teknik pengumpulan data dengan melakukan pengamatan dan pencatatan secara sistemik terhadap gejala atau fenomena yang ada pada objek penelitian.

  1. Data Sekuder

Data sekuder adalah data yang lebih dahulu dikumpulkan dan dilaporkan oleh orang atau instansi di luar dari peneliti, meskipun yang dikumpulkan atau dilaporkan itu sesungguhnya adalah data yang asli. Teknik pengumpulam data sekunder yang digunakan dalm penelitian inii adalah sebagai berikut:

a. Studi Pustaka

Studi Pustaka adalah suatu metode dimana penulis mempelajari berbagai teori dan pendapat dari berbagai ahli dan ilmuwan dalam buku-buku, literature, tulisan-tulisan, dan peraturan-peraturan yang ada hubungannya dengan masalah yang dukaji.

b. Dokumentasi

Dokumentasi merupakan teknik pengumpulam data yang dilakukan oleh penulis dengan cara mengamati data yang ada pada Koperasi Syari’ah BMT Amanah Bojonegoro sebagaiobjek penelitian. Data yang dimaksud disini adalah data yang berhubungan dengan masalah yang dikaji. Data yang dikumpulkan melalui dokumentasi adalah data arsip atau dokumen yang merupakan sumber informasi dalm penelitin yang hasilnya dapat dipertanggungjawabkan.

D. Metode dan Teknik Analisis Data

Teknik analisis laporan keuangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah anlisis perbandingan neraca, analisis perbandingan laba-rugi, dan analisis rasio. analisis ratio yang digunakam meliputi :

a.Rasio Likuiditas.

b.Rasio Solvabilitas.

c.Ratio Profitabilitas.

Penulis menggunakan analisis eksternal, analisis horisontal,dan analisis vertikal sebagai metode analisis laporan keuangan.











BAB IIV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN


A. Gambaran Singkat Obyek Penelitian

1. Sejarah berdirinya BMT Amanah

Pada hari Jum’at tanggal 20 Juni 2003,atas kesepakatan para pengurus Ranting Muhammadiyah Ledok Kulon Bojonegoro berupa program kerjanya dibidang ekonomi akhirnya sepakat untuk mendirikan mendirikan lembaga keuangan mikro syari’ah ,yang diberi nama BMT AMANAH. BMT adalah Balai Usaha Mandiri Terpadu yang isinya berintikan Baitul Mall wat Tamwil. Kegiatan BMT devisi Baitul Tamwil mengembangkan usaha-usaha produktif dan investasi dalam meningkatkan kualitas kegiatan ekonomi pengusaha kecil bawah dan kecil dengan antara lain mendorong kegiatan menabung dan menunjang pembiayaan kegiatan ekonominya ,sedangkan kegiatan Devisi Baitul Mal menerima titipan dana Zakat ,Infaq dan Sadaqoh dari para muzaki/donatur/anggota BMT dan menjalankannya sesuai dengan peraturan dan amanahnya.

Berkat kerja keras dari semua pihak akhirnya pada tanggal 1 Juli 2003 BMT AMANAH resmi dibuka. Dan untuk mengukuhkan legalitas operasionalnya BMT AMANAH mengajukan ijin operasional di PINBUK (Pusat Inkubasi Bisnis Usaha Kecil) dan akhirnya pada tanggal 22 November 2003 memperoleh ijin operasional Nomor : 06/SK/PNB.Bjn/XI/2003. Dengan adanya ijin operasional diharapkan dalam menjalankan amal usahanya BMT AMANAH akan lebih bisa diterima dan dipercaya oleh masyarakat .

Pada waktu Rapat Anggota Tahunan (RAT) tahun 2005 para dewan pendiri BMT AMANAH sepakat untuk lebih mengukuhkan lagi status BMT AMANAH a yaitu dengan mengajukan badan hukum menjadi Koperasi Syariah ke Dinas Koperasi, akhirnya pada tanggal April 2006 BMT AMANAH mendapatkan Badan Hukum Nomor : 518/04/BH/412.3./2006.

2. Visi

Menjadi Kopsyah BMT yang dapat dipercaya oleh masyarakat dan para anggotanya.

3. Misi

Mengelola dengan manajemen islami (STAF:Sidiq, Tabligh, Amanah Fatonah) dengan ridlo Allah SWT.

Tujuan

Pencapaian laba yang halal, bersih dan diberkahi Zat yang Maha Bersih.

4. Struktur Organisasi

Struktur kepengurusan pada koperasi Syariah BMT Amanah Bojonegoro adalah :

a. Rapat anggota yang menjadi lembaga tertinggi

b. Badan Pendiri

c. Pengurus yang terdiri dari :

1. Ketua

2. Sekretaris

3. Bendahara

d. Pengelola terdiri dari :

1. Manajer Umum

2. Manajer Bidang Pembiayaan

3. Manajer Bidang Penggalangan Dana

4. Manajer BidangAdministrasi dan Pembukuan

5. Kasir

6. Manajer Bidang Usaha Riil

5. Job Deskripsion ( Uraian Tugas ) pada Koperasi Syariah BMT Amanah Bojonegoro

a. Pengurus

1. Pengurus

a. Kewenangan:

Mewakili anggota (pendiri), pengurus berwenang untuk memastikan jalan tidaknya Koperasi Syariah BMT Amanah Bojonegoro dan membuat kebijakan umum serta melakukan pengawasan pelaksanaan kegiatan Koperasi Syariah BMT Amanah Bojonegoro sesuai dengan tujuan.

b. Tugas- tugas

1. Menyusun kebijakan umum Koperasi Syariah BMT Amanah Bojonegoro

2. Melakukan pengawasan kegiatan dalam bentuk :

a. Persetujuan pembiayan untuk suatu jumlah tertentu

b. Pengawasan tugas manajer (pengelola)

c. Memberikan persetujuan terhadap produk-produk yang ditawarkan

2. Badan Penasehat

a. Kewenangan:

Memberi nasehat baik diminta maupun tidak kepada pengurus untuk kemajuan Koperasi Syariah BMT Amanah Bojonegoro

b. Tugas- tugas

Menasehati pengurus untuk kemajuan Koperasi Syariah BMT Amanah Bojonegoro

b. Pengelolaan

a. Kewenangan:

Memimpin jalannya Koperasi Syariah BMT Amanah Bojonegoro sehingga sesuai dengan tujuan dan kebijakan umum yang digariskan oleh pengurus.

b. Tugas- tugas

1. Membuat rencana kerja secara periodik, yang meliputi :

a. Rencana pemasaran

b. Rencana pembiayaan

c. Rencana biaya operasional

d. Rencana keuangan

2. Membuat kebijakan khusus sesuai dengan tujuan dan kebijakan umum yang digariskan oleh pengurus.

3. Memimpin dan mengarahkan kegiatan yang dilakukan oleh stafnya

4. Membuat laporan secara periodik kepada pengurus, berupa :

a. Laporan penbiayaan baru

b. Laporan perkembangan pembiayaan

c. Laporan keuangan

c. Manajer Bidang Pembiayaan

a. Kewenangan:

Melaksanakan kegtiatan pelayanan kepada anggota serta melakukan pembinaan agar pembiayaan yang diberikan tidak macet.

b. Tugas- tugas :

  1. Menyusun rencana pembiayaan.

  2. Menerima usulan dan melakukan wawancara analisa pembiayaan.

  3. Menganalisa proposal pembiayaan anggota.

  4. Mengajukan persetujun pembiayaan kepada manajer umum.

  5. Melakukan administrasi pembiayaan.

  6. Melakukan pembinaan kepada anggota.

  7. Membuat laporan perkembangan pembiayaan.

d. Manajer Bidang Pembiayaan

a. Kewenangan:

Melaksanakan kegiatan pengerahan dana anggota dan berbagai sumber dan lainmya untuk memperbesar modal Koperasi Syariah BMT Amanah Bojonegoro

b. Tugas- tugas :

  1. Menyusun rencana kewenangan pengerahan simpanan.

  2. Merenganakan produk- produk simpanan.

  3. Melakukan analisa data simpanan melakukan pembinaan anggota.

  4. Membuat laporan perkembangan simpanan.

e. Manajer Bidang Pembukuan

a. Kewenangan:

Menangani administrasi keuangan, menghitung bagi hasil, serta menyusun laporan keuangan

b. Tugas- tugas :

  1. Mengerjakan jurnal buku besar

  2. Menyusun neraca percobaan

  3. Melakukan perhitungan bagi hasil simpanan dan pembiayaan

  4. Menyusun laporan keuangan secara periodik

f. Kasir

a. Kewenangan:

Bertindak sebagai penerima uang dan juru bayar

b. Tugas- tugas :

  1. Menerima/menghitung uang dan membuat bukti penerimaan.

  2. melakukan pembayaran sesuai dengan perintah ketua.

  3. Melayani dan membayar pengambilan simpanan.

  4. Membuat buku kas harian.

  5. Setiap akhir jam kerja menghitung uang yang ada dan meminta pemeriksaan dari ketua.

Secara skematis struktur organisasi Koperasi Syariah BMT Amanah Bojonegoro dapat dilihat pada gambar berikut.

RAPAT ANGGOTA



DEWAN PENDIRI



DEWAN PENDIRI




MANAJER UMUM

WIWIN IKA SISWANTI, SE




KASIR/TELLER

…………...


MANAJER BIDANG

PENGALANGAN DANA

Dwi Yuli Astutik,SE


MANAJER BIDANG

PEMBIAYAAN

Wiwin Ika Siswanti,SE

MANAJER BIDANG

ADM & PEMBUKUAN

Estu Malichah,SE

MANAJER BIDANG

USAHA RIIL

Estu Malichah,SE





STRUKTUR ORAGANISASI KOPERASI SYARIAH

BMT AMANAH BOJONEGORO

Sumber: Bagian Administras Koperasi Syariahi BMT Amanah Bojonegoro



DAFTAR PUSTAKA


Almilia, Luciana Spica dan Winny Herdiningtyas (2005). Analisis Rasio CAMEL terhadap Prediksi Kondisi Bermasalah pada Lembaga Perbankan Periode 2000-2002, Juranal Akuntansi dan Keuangan Vol. 7 No. 2, Nopember 2005.

Anggraeni, Silvia dan Toto Sugiharto (2004). Analisis Z Skor untuk Penilaian Kinerja Keuangan serta Pengaruhnya Terhadap Harga Saham Perusahaan Perdagangan di BEJ, Majalah Ekonomi dan Komputer No.3 Tahun XII-2004.

Antonio, Muhammad Syafi’i (2001). Bank Syariah Dari Teori Ke Praktek. Jakarta: Gema Insani Press.

Arifin, Zainul (2005). Dasar-Dasar Manajemen Bank Syariah. Jakarta: Alvabet.

Bank Indonesia (2004). Statistik Perbankan Syariah Januai 2004. Jakarta: Bank Indonesia.

Bank Indonesia (2005). Surat Edaran No.7/53/DPbS Perihal Kewajiban Penyediaan Modal Minimum bagi Bank Umum Yang Melaksanakan Kegiatan Usaha Berdasarkan PrinsipSyariah. Jakarta: Bank Indonesia.

Bank Indonesia (2006). Kebijakan Akselerasi Pengembangan Perbankan Syariah 2007-2008. Jakarta: Bank Indonesia.

Bank Indonesia (2007). Lampiran Surat Edaran No. 9/24/DPbS Perihal Sistem Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum Berdasarkan Prinsip Syariah. Jakarta: Bank Indonesia.

Bank Indonesia (2007). Peraturan Bank Indonesia No. 9/1/PBI/2007 tentang Sistem Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum Berdasarkan Prinsip Syariah. Jakarta: Bank Indonesia.

Bank Indonesia (2007). Peraturan Bank Indonesia No. 9/9/PBI/2007 tentang Penilaian Kualitas Aktiva Bank Umum yang Melaksanakan Kegiatan Usaha Berdasarkan Prinsip Syariah. Jakarta: Bank Indonesia.

Bank Indonesia (2007). Surat Edaran No. 9/24/DPbS Perihal Sistem Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum Berdasarkan Prinsip Syariah. Jakarta: Bank Indonesia.

Bank Indonesia (2008). Statistik Perbankan Syariah Desember 2007. Jakarta: Bank Indonesia.

Bank Syariah Mandiri (2003). Laporan tahuanan Bank Syariah Mandiri 2002. Jakarta: BSM.

Bank Syariah Mandiri (2004). Laporan tahuanan Bank Syariah Mandiri 2003. Jakarta: BSM.

Bank Syariah Mandiri (2005). Laporan tahuanan Bank Syariah Mandiri 2004. Jakarta: BSM.

Bank Syariah Mandiri (2006). Laporan tahuanan Bank Syariah Mandiri 2005. Jakarta: BSM.

Bank Syariah Mandiri (2007). Laporan tahuanan Bank Syariah Mandiri 2006. Jakarta: BSM.

Bank Syariah Mandiri (2008). Laporan tahuanan Bank Syariah Mandiri 2007. Jakarta: BSM.

Febryani, Anita dan Rahadian Zulfadin (2003). Analisis Kinerja Bank Devisa dan Bank Non Devisa di Indonesia, Jurnal Kajian Ekonomi dan Keuangan, Vol. 7, No. 4.

Gill, James O. dan Moira Chatton (2003). Memahami Laporan Keuangan, Jakarta: PPM.

Hadad, Muliaman D, Agus Sugiarto, Wini Purwanti, M. Jony Hermanto dan Bambang Arianto (2003). Kajian Mengenai Struktur Kepemilikan Bank Di Indonesia. Jakarta: Bank Indonesia.

Hadad, Muliaman D, Wimboh Santoso, Sarwedi, Hari Sukarno dan Mohd Adenan (2004). Model Prediksi Kepailitan Bank Umum di Indonesia. Jakarta: Bank Indonesia.

Harahap, Sofyan S., Wiroso dan Muhammad Yusuf (2007). Akuntansi Perbankan Syariah. Jakarta: LPFE Usakti.

Hariadi, Bambang (2002). Akuntansi Manajemen Suatu Sudut Pandang. Yogyakarta: BPFE.

Harnanto (2002). Akuntansi Keuangan Menengah. Yogyakarta: BPFE.

Joel G. Siegel dan Joek Shim (1994). Kamus Istilah Akuntansi. Jakarta: PT Elex Media Komputindo.

Lestari, Maharani Ika dan Toto Sugiharto (2007). Kinerja Bank Devisa Dan Bank Non Devisa Dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya, Proceeding PESAT Auditorium Kampus Gunadarma 21-22 Agustus 2007. Jakarta: Universitas Gunadarma.

Muhammad (2005). Sistem dan Prosedur Operasional Bank Syariah. Yogyakarta: UII Press.

Muhammad (2005). Pengantar Akuntansi Syariah. Jakarta: Salemba Empat.

Muljono, Teguh Pudjo (1986). Analisa Laporan Keuangan Untuk Perbankan. Jakarta: Djambatan.

Munawir (2001). Analisa Laporan Keuangan. Yogyakarta: Liberty.

Narulia, Lisa dan Suryadi (2006). Analisis Kinerja Bank Syariah Mandiri. Majalah Ekonomi dan Komputer No. 2 Tahun XIV-2006.

Samosir, Agunan P. (2003). Analisis Kinerja Bank Mandiri setelah Merger dan sebagai Bank Rekapitalisasi, Jurnal Kajian Ekonomi dan Keuangan Vol. 7 No. 1, Maret 2003.

Sucipto (2003). Penilaian Kinerja Keuangan. Universitas Sumatera Utara Digital Library.

Sjahdeini, Sutan Remy (1999). Perbankan Islam dan Kedudukannya dalam Tata Hukum Perbankan Indonesia. Jakarta: Grafiti.

Sudarsono, Heri (2004). Bank Dan Lembaga Keuangan Syariah. Yogyakarta: Ekonesia.

Sugiono (2005). Metode Penelitian Bisnis. Bandung: Alfabeta.

Supardi (2005). Metodologi Penelitian Ekonomi dan Bisnis. Yogyakarta: UII Press.

Tika, M. Pabundu (2006). Metodologi Riset Bisnis. Jakarta: Bumi Aksara.

Wiyono, Slamet (2005). Cara Mudah Memahami Akuntansi Perbankan Syariah Berdasarkan PSAK dan PAPSI. Jakarta: Grasindo.











Labels:

1 Comments:

Anonymous Anonymous said...

mas mau tanya,itu ada 2 penelitian ya?yang bahas tentang kinerja BMT itu judulnya apa ya??

May 30, 2011 at 10:08 AM  

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home